Minggu, 20 Maret 2011

Penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas SD


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan komunikasi antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Dalam kegiatan berbahasa seseorang dituntut untuk menguasai ketrampian berbahasa. Keterapilan tersebut meliputi empat macam, yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan hubungannya menyimak dan membaca tergolong ketrampian berbahasa yang reseptif, sedangkan berbicara dan menulis termasuk ketrampilan berbahasa yang produktif. Berbicara dimaksud sebagai suatu ketrampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh ketrampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari ( Tarigan, 1985: 1-3 ).
Berbicara sudah barang tentu erat hubungannya dengan perkembangan kosakata yang diperoleh oleh anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seharusnya pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikounikasikan. Apabila seorang pembicara tidak memikirkan yang akan dikomunikasikannya dengan pendengar, maka kegiatan berbahasa tidak berjalan dengan lancar.
Pada siswa kelas III SD dalam kegiatan berbicara melalui mengekspresikan gambar masih sangat diperlukan bimbingan dan   arahan. Hal ini, disebabkan dalam kehidupan sehari-hari siswa menggunakan bahasa daerah yaitu bahasa jawa. Usaha pengembangan kemanpuan berbahasa pada siswa SD sangsat penting. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain, dengan berkounikasi kemampuan siswa dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, sikap, dan pendapatnya mulai tumbuh dan berkembang.
Kenyataan menunjukan peran guru sangat menunjang dalam kelancaran berbicara pada siswa kelas III SD, yaitu berusaha mencari sarana yang mampu meningkatkan kreativitas siswa. Agar para siswa lebih tertarik dalam pelajaran berbicara menggunakan media gambar melalui  power point. Pada pembelajaran bahasa Indonesia, siswa diharapkan mampu berbicara dengan cara menyebutkan media yang disajikan oleh guru. Dengan bimbingan guru pula, siswa mampu berbicara atau menceritakan kebali media gambar melalui power point yang ditunjukan oleh guru.
Perkembangan zaman dewasa ini menuntut peikiran-pemikiran baru yang dapat menjawab masalah-masalah yang sering timbul dalam pendidikan. Masalah-masalah yang timbul ini samgat kompleks, misanya saja masalah tentang mutu pendidikan, keefektifan proses belajar mengajar, pencapaian tujuan pendidikan, penggunaan media gambar dan perhatian siswa.
Media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (messege) atau informasi darisuatu sumber (resource) kepada penerimanya (resceiver). Jadi, media adaah suatu alat perlengkapan yang dapat membantu komunikasi antara pihak satu dengan pihak lain. Tujuan utama penggunaan media adalah agar pesan atau informasi yang dikomunikasikan tersebut dapat diserap semaksimal mungkin oleh para siswa sebagai penerima informasi (Soeparno, 1980:1-5).
Agar tujuan komunikasi penggunaan media yang diinginkan dapat tercapai dengan baik. Kehadiran media tidak hanya sebagai alat bantu pembelajaran tetapi merupakan bagian integral dalamproses pebelajaran.
Kedudukan media pengajaran ada dalam koponen metode mengajar sebagaisalah satu upaya untuk mempertinggi proses interaksi guru-siswa dan interaksi siswa dengan lingkungan belajarnya.Oleh sebab itu, fungsi utama dari media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar, yakni menunjang penggunaan metode mengajar yang dipergunakan guru. Melalui penggunaan media pngajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa (Sudjana, 2007: 7).
Foto termasuk kedalammedia gambar pandang katagori proyeksi slide bisu. Slide tidak bersuara atau bisu terdiri atas hardware yang berupa foto slide. Foto tersebut dibuat dalam bentuk power point dan berupa satuan-satuan yang terpisah. Pembuatannya dapat dilakukan oeh guru sendir,terutama mengenai pemotretan foto dan pemrosesan kedalam bentuk power point (Soeparno, 10980:33).
Oleh katrena itu, guru dapat meningkatkan kemampuan pembelajaran ketrampian berbicara yaitu menggunakan alat bantu sebagai pendukung pelajaran agar lebih menarik siswa untukbelajar, dalam memilih dan membuat serta menggunakan media itu sudah barang tentu harus tepat guna, artinya sesuai dengan materi yang disampaikan, sesuai dengan situasi dankeadaan tepat daam penyampaian.
Melihat kondisi yang demikian, maka perlu diadakan peneitian agar memperoleh gambaran penggunaan media gambar melalui power point dalam ketrampian berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia. Pembelajaran berbicara menggunakan media gabar lebih efektif karena,siswa lebih mudah dalam mengungkapkan media gambar tersebut. Dari penelitian tersebut diharapkan dapat dipergunakan untuk memperbaiki pelaksanaan/proses, hambatan dan upaya mengatasi hambatan dalam menggunakan media pada proses pembelajaran ketrampilan berbicarabahasa Indonesia di sekoah. Terutama penggunaan media sehingga siswa dapat dengan mudah berbicara dengan baik.Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran Ketrampilan Berbicara padfa Siswa Kelas III SD Negri03 Sengon Prambanan Klaten”.

B.     Identifikasi  Masalah
      Permasalahan yang berkaitan dengan penggunaan media gambar dalampembelajaran ketrampilan berbicara,masalah-masalah trersebut adalah sebagai berikut:
1.      Upaya mengatasi hambatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten.
2.      Pelaksanaan penggunaan media gambar mealuipower point dalam pmbelajaran keterampian berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten.
3.      Hasil sebelum dan sesudah penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten.
4.      Habatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten.

C.  Pembatasan Masalah    
                  Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, diketahui bahwa masalah-masalah yang muncul dalam penelitian ini cukup berfariasi. Masalah- masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini akan dibatasi sebagai berikut.
1.      Pelaksanaan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten.
2.      Hambatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten
3.      Upaya mengatasi hambatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten

D.    Rumusan Masalah
                  Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka dapat dirumuskanpermasalahan sebagai berikut.
1.      Bagaimanakah pelaksanaan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten
2.      Apa sajakah hambatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten
3.      Bagaimanakah upaya mengatasi hambatan penggunaan media gambar melalui power point dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten




E.        Tujuan Penelitian  
                    Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang akan dicapai dari penelitian ini sebagai berikut.
1.      Peneitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas III SD dengan menggunakan media gambar melalui power point di SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten
2.      Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hambatan-hambatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas III SD dengan menggunakan media gambar melalui power point di SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten
3.      Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan upayamengatasi hambatan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas III SD dengan menggunakan media gambar melalui power point di SD Negri 03Sengon Prambanan Klaten

F.     Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
a.       Siswa dapat mengembangkan ketrampilan berbicaradengan menggunakan media gambar.
b.      Mahasiswa sebagaipeneliti endapatkan pengalaman dan pengetahuan dalam menggunakan edia gambar untuk meningkatkan keterampilan berbicara.
c.       Guru bahasa Indonesia memperoleh tambahan pengetahuan dan wawasan tentang media gambar khususnya pembelajaran keterampian berbicara.

2.      Manfaat Praktis
a.       Hasil penelitian ini diharapan dapat memberikan masukan bagi guru bahasa Indonesia dalam memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia.
b.      Penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi peneliti selanjutnya agar lebih baik.
c.       Hasil penelitian ini dapat meberikan masukan dan menambah pengetahuan tentang pembelajaran bahasa Indonesia.

G.    Definisi Oprasional
1.      Media adalah suatu alat, perantara untuk menyampaikan pesan kepada penerima pesan. Media gambar adalah segaa sesuatu yang diwujudkan secara visua ke dalam bentuk 2 dimensi sebagai curahan ataupun pikiran yang bermacam-macamseperti lukisan, potret, slide, film,strip, opaque proyektor.
2.      Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik.
3.      Keterampian berbicara adalah kecakapan untuk menyelesaikan tugas berkata atau berucap. Berbicara suatu cara untukmengungkapkan gagasan dari pihak satu ke pihak yang lain, agar pihak lain dapat mengerti.      
                  Berdasarkan definisi oprasinal yang telah dijelaskan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan media gambar dalam pembelajaran ketrampian berbicara pada siswa kelas III SD Negri 03 Sengon Prambanan Katen merupakan teknik pebelajaran keterampilan berbicara dengan menggunakan media gabar yang berupa foto. Media gambar yang berupa foto tepat-tempat yang sudah diketahui oleh siswa dibuat daam bentuk power point   slide. Untuk mengungkap atau membicarakan foto yang dilihatnya itu merupakan proses pembelajaran keterampianberbicara yang baik, siswa tidak malu-malu untuk berbicara didepan teman, dan siswa dapat berimajinasi melihat gambar foto yang dilihatnya.
                                   












BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Hasil Penelitian terdahulu
      Penelitian yang dilakukan oleh Denok Wijayanti dari Universitas Negri Yogyakarta menulis skripsi yang berjudul “Pinangkatan Keterampilan Berbicara MenggunakanMedia Film Bisu Pada Siswa kelas VII-G SMP Negri4 Pemalang Tahun Ajaran 2006/2007”.
      Berdasarkan analisis data penelitian dan pembahasan, disimpulkan bahwa dengan menggunakan media film bisu, keterampilan berbicara siswa meningkat sebesar 76,3%. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 78,9%, sedangkan pada siklus II hasil yang dicapai sebesar 86,7%. Perilaku yang ditunjukan siswa pun berubah setelah diberikan tindakan. Siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran, bekerja sama dengan kelompoknya, tidak gugup atau grogi dan semakin percaya diri ketika berbicara di depan kelas.
            Penelitian yang dilakukan oleh peneliti di atas terdapat perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Hasi dari penelitian tersebut adalah pembelajaran keterampian berbicara dengan media film bisu pada siswa kelas VII-G SMP Negri 4 Pemalang dapat mengetahui hasil peningkatan berbicara, sedangkan penelitian yang akan diteliti oleh peneliti yaitu penggunaan media gambar dalam pembelajaran keterampian berbicara pada siswa kelas III SD Negri Prambanan Klaten.
            Penelitian yang kedua adalah penelitian yang diakukan oleh Aris prasetyo 2008 dari Universiyas Negri Yoogyakarta yang berjudul “Peningkatan Pembelajaran Keterampilan Berbicara dengan Media Kartu Gambar Pada Siswa Kelas I SD Negri Sutan Mangir Sleman Yogyaskarta”. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara, habatan-hambatan dalam pebelajaran keterampian berbicara.
            Subjek penelitian ini adalah siswa kelas I SD Negri Sutan Mangir Sleman Yogyakarta. Objek dalam penelitian ini adalah pembelajaran keterampilan berbicara, hambatan-hambatan pembelajaran keterampian berbicara, dan peningkatan keterampian berbicara kelas I SD sesudah menggunakanmedia kartu gambar di SD  Negri sutan Mangir Sleman Yogyakarta. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuaitatif .
            Hasil anaisis data secara keseluruhan menunjukan niai rata-rata keterampian berbicara siswa mengalai peningkatan. Kesimpuan dalam penelitian ini adalah (1) peaksanaan pembelajaran keterampilan berbicara pada sikus 1Cberjaan lancar, guru dan siswa sama-sama aktif dalam pembelajaran. Hasil persentase pada siklus I meningkat 17,12% menjadi 17,64% dan (2) pelaksanaan pembelajaran keterampian berbicara pada siklus II banyak mengalami kemajuan. Rentang perhatian siswa semakin baik, siswa dapat berpartisipasi daasm satu pembicaraan. Siswa sudah dapat mendengarkan orang lain dan menaggapi pembicaraan tersebut. Hasi persentase mengalami peningkatan sebesar 7,36% menjadi 25%. Hal ini berarti setiap tindakan I sampai tindakan II mengalami peningkatan yang cukupbagus.
            Berdasarkan kesimpulan penelitian Aris Prasetyo terdapat perbedaan dengan penelitian yag akan dilakukan oleh peneliti. Subjek daam penelitian Aris Prasetyo adalah siswa kelas I SD Negri Sutan Mangir Sleman Yogyakarta dan objek penelitian ini adalah pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas I SD dengan menggunakan media kartu gambar, sedangkan subjek yang akan dilakukan peneliti adalah siswa keas III SD Negri 03 Sengon Prambanan Klaten yang berjumlah 26 siswa dan objek penelitian ini adalah pembeajaran keterampian berbicara siswa kelas III dengan menggunakan media gambar.
            Penelitian tersebut menunjukan adanya perbedaan hasil antara peneliti Denok Wijayanti dan Aris Prasetyo. Hasil p[enelitian Denok Wijayanti yaitu untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas VII-G SMP Negri 4 Pemalang, tetapi hasi penelitian Aris Prasetyo yaitu untuk meningkatkan keterampian berbicara siswa kelas I SD Negri Sutan Mangir sleman Yogyakarta.      
            Berdasarkan penelitian di atas peneliti melakukan penelitian penggunaan media gambar dalam pembelajaran keterampilan berbicara, karena media ini melatih siswa untuk mengeluarkan idenya dari gambar yang dilihatnya.
B.     Kerangka Teoritik    
1.      Pembelajaran Bahasa Indonesia
             Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkunannya. Dengan proses tersebut diharapan terjadi perubahan tingkahlaku ke arah yang lebih baik. Pembelajaran memiliki pengertian yang didaamnya mencakup sekaligus proses mengajar yang berisi serangkaian perbuatan guru untuk menciptakan situasi kelas dan siswa untuk menghasikan perubahan pada diri siswa akibat dari kegiatan belajar mengajar.
            Menurut Susilo (2007: 177), pebeajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan tingkah laku kea rah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak yang mempengaruhinya, baik factor internal yang datang dari dalamindividu maupun factor eksternal yang datang dari lingkungan. Dalam pebelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkoordinasi ingkungan  agar menunjang terjadinya perubahan  perilaku pada peserta didik.
            Pelajaran memfokuskan seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar. Winataputra (2008:1.19), mernyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan  terjadinya proses belajar pada siswa.
             Berdasarkan pendapat di atas dapat disipulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya untuk aktif mempelajari materi yang disajikan sehingga terjadi perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Pembelajaran mencakup proses mengajar yang berisi serangkaian perbuatan guru    untuk menciptakan situasi kelas. Proses belajar yang terjadi pada siswa berisi perbuatan siswa untuk menghasikan perbuatan pada diri siswa akibat dari kegiatan belajar.    
            Pembelajaran merupakan proses yang tersusun secara teratur yang dapat mengubah kemampuan peserta didik dari suatu tingkatan ke tingkatan lain yang lebihbaik. Eberhasian dalam pembelajaran sangat ditentukan oleh berbagai komponen. Komponen adalah unsure-unsur pembangun yang menyebabkan sesuatu dapat berjalan dengan baik. Koponen dalam pembelajaran meliputi guru, siswa, tujuan, bahan, metode, media dan evauasi.
a.       Guru
      Guru berperan sebagai fasiitator belajar bertitik tolak dari tujuan-tujuan yang hendak dicapai, menurut Hamali (dalam Susilo, 2007: 189). Aka guru berkewajiban mengebangkan tujuan-tujuan pendidian menjadi rencana-rencana yang operasional. Dalam hal ini guru berperan dalam mengembangkan kurikulum dalam bentuk rencana-rencana yang lebih operasional seperti sialabus atau satuan pelajaran.
b.      Siswa (peserta didik)
      Siswa merupakan hal penting dalam pembelajaran, karena berperan sebagai subjek penelitian. Berhasdil atau tidaknya penelitian dipengaruhi juga oleh siswa. Siswa merupakan pihak yang akan menerima dan memperoeh seperangkat kemanpuan yang  terumuskan dalam kurikulum berbasis kompetensi (susio,2007: 190). Dalam hal ini, siswa perlu diposisikan sebagai subjek dari iplemerntasi kurikulum bukan diperuntukan bagi guru, akan tetapi diperuntukan bagi siswa.
c.        Tujuan Pembelajaran
      Tujuan adalah komponen yang dapat me\mpengaruhi komponen pembelajaran lainnya seperti bahan pembelajaran, metode pembelajaran, dan evauasi. Semua komponen ini harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bia salah satu kompnen tidak sesuai dengan tujuan, pelaksanaan pembelajaran tidak dapat mencapai tujuan yang teah dirumuskan.
      Tujuan pembelajaran (kompetensi dasar) adalah kemampuan minimal dan mata peajaran yang harus dimiiki oleh lulusan, kemampuan minimum yang dapat dilakukan atau diutampilkan oleh siswa untuk standar kompetensi tertentu dari suatu mata pelajaran (Susio,2007: 140).
d.       Bahan Pembelajaran
      Materi pembelajaran yang akan diajarkan harus sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Materi pebelajsaran merupaksan inti dalam pembelajaran yang akan disampaikan oeh siswa. Tanpa bahan pembelaajaran, proses pembelajaran tidak akan berjalan. Menurut Susio (2007: 122), materi pembelajaran adalah pokok-pokok materi pelajaran ysng harus dipelajari siswa sebagai sarana pencapaian kemampuan dasar yang akan disusun berdasaran indikator pencapaian belajar.
e.       Metode Pembelajaran
       Salah satu kemapuan yang dituntut dari seorang guru adalah kompetensinya dalam memiih mrtode pengajaran yang teopat untuk bahan pelajaran yang akan diajarkan. Ketepatan memilih metode mengajar ini sangat penting karena akan membantu pencapaian tujuan pebelajaran. Jika pemilihan metode mengajar kurang tepat maka tujuan pembelajaran pun menjadi samar dan tidak fokus pada sasaran. Oleh karena itu, dalam mengajar harus diperhatikan dalam pemilihan metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang ditunjukan pada pencapai tujuan yang telah ditetapkan.
      Metode adalah cara guru menyapaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu. Metode yang biasa digunakan dalam pebelajaran antara lain etode dikusi, tantya jawab, demontrasi dan lain-lain. Metode tanya jawab, yaitu metode yang digunakan untuk meninjau pelajaran yang lalu, agar siswa memusatkan perhatian tentang jumlah kemajuan yang telah dicapai sehingga dapat melanjutkan pelajaran berikutnya. Metode diskusi, yaitu metode yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam metode ini pertanyaan guru diarahkan untuk merangsang siswa menggunakan fakta yang telah dipelajari untuk menyelesaikan masalah yang kompleks. Metode demonstrasi, yaitu metode yang dipakai untuk mempraktekkan suatu kegiatan (hastuti.1990: 37-40).
f.       Media pengajaran
      Media pengajaran adalah alat yang dipakai sebagai saluran yang digunakan dengan tujuan untuk lebih mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Dalam proses pembelajaran informasi tersebut dapat berupa sejumlah keterampilan atau pengetahuan yang perlu dikuasai oleh pembelajar. Media pengajaran tersebut dapat menambah efektivitas komunitas dan interaksi antara pengajar dan pembelajar (Hamalik, 1986: 23). Media pengajaran sangat membantu keberhasilan anak dalam belajar, khusus untuk pembelajaran bahasa dibutuhkan media ang dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi aktif dan pasif anak. Anak membutuhkan latihan untuk berbicara dengan orang lain. Dalam hal ini media akan sangat membantu sekali karena akan menimbulkan motivasi dan usaha anak dalam belajar bahasa.
g.      Evaluasi Pengajaran
      Dalam pembelajaran tentunya ada tes yang diberikan kepada siswa untuk mengetahui tingkat pemahaman dan penguasaan materi itu. Selanjutnya aka nada penilaian oleh guru terhadap hasil pelaksanaan tugas dan tes tersebut. Penilaian ini biasanya berupa skor, alat ukur (instrument) yang digunakan untuk menilai hasil pekerjaannya.
      Penilaian dapat dilakukan dengan model tesbaik secara lisan maupun tulisan atau dengan jenis lain seperti potofolio. Pemilihan jenis tes dapat mempertimbangkan materi yang diajarkan serta waktu yang akan diberikan kepada siswa (Susilo, 2007: 140).
2.      Media Pembelajaran Bahasa Indonesia
            Menurut Sadiman (1986: 6) media adalah perantara atau pengatur pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media ini digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga proses belajar terjadi.
            Menurut suparno (1980: 1)  mengatakan media adalah suatu alat yang dipakai sebagai saluran (channel) untuk menyampaikan suatu pesan (message) atau informasi dari satu sumber (resource) ke penerimanya (receiver).
            Menurut Hamalik (1986: 23) media adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dengan tujuan untuk lebihmengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses belaja mengajar. Media itu sendiri dapat berupa media elektris  dan nonelektris. Media elektris yaitu media yang menggunakan listrik seperti: Hp, tape recorder, televisi komputer/laptop, dan lin-lain. Selanjutnya adalah media nonelektris yang merupakan media yang masih sederhana dan tidak menggunakan listrik seperti: gambr, papan tulis, modul, dan lain-lain. Kedua jenis media tersebut memang memiliki perbedaan dari segi karakteristiknya, tetapi keduany juga memiliki kelebihan tertentu yang dapat memudahkan dalam penggunaannya.
            Berdasarkan pengertian media yang dikemukakan dapat ditarik kesimpulan bahwa media adalah bahan atau materi yang dituangkan dalam peralatan yng dapat menyimpan dan menyampaikan informasi atau pesan yang dikandungnya kepada penerimauntuk tujuan pendidikan atau pengajaran. Pesan atau informasi dapat dikomunikasikan dengan sejumlah kemampuan yang perlu dikuasai oleh siswa. 
            Menurut Semi (1993: 61-62) secara umum, media dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok besar, yakni: (1) pengalaman aktual, (2) pengalaman buatan, seperti permainan, dan bermain peran (3) media radio, tape recorder, dan piringan hitam, (4) media viusual, seperti foto, grafik, bangun, dan flash card, (5) media audio-visual, seperti kombinasi silide dan tape, tv, (6) media cetak, seperti surat kabar, buku, dan majalah, (7) model, seperti kerangka manusia.
            Media yang dipakai dalam penelitian yaitu media gambar (visual) yang terdiri dari bermacam-macam gambar yang berupa foto. Melalui media gambar ini diharapkan siswa lebih mudah menerima materi yang diajarkan sekaligus siswa akan lebih mudah mengembangkan imajinasi dan kreatifitasnya dalam kegiatan berbicara melalui gambar foto yang diberikan guru.
            Foto termasuk kedalam media gambar pandang katagori proyeksi slide bisu. Slide tidak bersuara atau bisu terdiri atas hardwere yang berupa foto slide. Foto tersebutdibuat dalam bentuk power point dan berupa satuan-satuan yang terpisah. Pembuatannya dapat dilakukan oleh guru sendiri, terutama mengenai pemotretan foto dan pemrosesan kedalam bentuk power point (Soeparno, 1980: 33).
            Pemakaian media gambar dalampenelitian ini bukan tanpa alasan karena gambar dapat memberikan gambaran visual secara konkret tentang masalah yang duigambarkannya. Selain itu dengan media gambar orang dapat mengungkapkan ide atau informasi yang terkandung didalamnya dengan jelas. Dengan kata lain media gambar akan lebih jelas daripada dikatakan dengann kata-kata baik yang ditulis atau diungkapkan. Selain itu media gambar juga sangat mudah untuk diperoleh dari brosur, majalah, internet atau guru dapat membuatnya sendiri. Jadi dapat dikatakan media gambar diharapkan dapat menarik perhatian siswa,menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan daya kreasi, dan pesan yang disampaikan lebih mudah untuk ditangkap.
            Media gambar adalah media yang paling umum dipakai, yang merupakan bahasan umum yang dapat dimengerti dan dinikmati dimana saja (Sadiman, 1986:29). Media gambar berupa fopto yang ditampilkan dengan power point akan membuat siswa lebih antusias dalam mengikuti pelajaran, apabila tanpa menggunakan power point siswa akan merasa bosan. Menurut Sadiman (1986: 31-33) ada bebarapa syarat yang berkaitan dengan penggunaan media gambar agar dapat berfungsi secara efekrtif dan efisien dalam pengajaran antara lain:
a.   Gambar harusd asli dan nyata. Gambar  tersebut haruslah secara   jujur menggambarkan situasi seperti orang melihat benda yang sebenarnya, artinya gambar tersebut sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
b.      Sederhana. Komposisi gambarhendaknya cukup jelas menunjukan poin-poin yang pokok dari gambar tersebut jangan berlebihan  sehingga akan lebih rumit dipahami oleh siswa.
c.       Ukuran relative. Gambar yang digunakan harus bisa diperbesar atau diperkecil sesuai dengan objek atau benda yang sebenarnya misalnya, tentang gambar bakteri yang aslinya kecil bukan sulit dilihat, tetapi untuk kepentingan pengetahuan siswa maka dibuat lebih besar.
d.      Gambar hendaknya mengandung gerak atau perbuatan.  Gambar yang baik bukanlah gambar yang diam atau bergerak, tetapi buatlah gambar yang membuat aktifitas tertentu.
e.       Gambar yang bagus berbentuk baik untuk mencapai tujuan pengajaran walaupun dari segi mutu kurang, tetapi kadang hasil gambar siswa sendiri lebih baik.
f.       Tidak semua gambar bagus merupakanm media yang tepat, karena gambar yang baik dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. 


Kelebihan media gambar menurut Hamalik (1986:80-82) antara lain:
a.   Media gambar lebih konkret, artinya gambar dapat menjelaskn objek sesuai kondisi aslinya.
b.      Media gambar dapat mengatasi keterbatasan indera, artinya membantu siswa yang cacat mata sehingga dapat melihat benda yang kecil melalui gambar yang sudah diperbesar.
c.       Media gambar dapat menjelaskan pokok masalah lebih komplek, artinya siswa dapat melihat langsung bagian apa saja yang ingin dipelajari.
d.      Media gambar lebihmurah dan dapat dibuat sendiri.
e.       Media gambar mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, artinya gambar tidak memerlukan ruang yang luas.
                  Dari pendapat tersebut ternyata media gambar mempunyai beberapa keuntungan dari segi biaya, teknik penyajian, perencanaan, maupun proses produksi. Adapula kelemahan dari media gambar menurut Sadiman (1986: 31) sebagai berikut:
a.          Tafsiran orang melihat gabar yang berbeda-beda: setiap orang dapat
      menafsirkan dengan kata atau ungkapan yang berbeda-beda.
b.       Gambar hanya menekankan persepsi indera saja: gambar hanya menitik beratkan pada kemampuan indera dalam meihat sebuah gambar.
c.       Ukuran gambar yang kecil dapat mengakibatkan ketidak aktifan pebelajaran, apabila gambar terlalu kecil maka akan sulit dilihat untuk itu ukuran gambar harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa.
      Jenis medis atau visual salah satunya adalah power point. Power point adalah salah satu program (software) yang menawarkan kemudahan membuat media presentasi pembelajaran visua berbasis computer. Berbagai trik perlu dipahami melalui belajar dan latihan tanpa mengenal rasa bosan untuk membuat mudah media presentasi pembelajaran yang menarik. Power point adalah sebuah program computer untuk presentasi yang dikembangkan oleh Microsoft di daampaket aplikasi. Aplikasi ini sangat banyak digunakan, apalagi oleh kalangan perkantoran dan pebisnis,para pendidik, siswa, dan trainer. Selain dikalangan pekantoran dan pebisnis. Power point juga banyak digunakan untuk media pembelajaran yang sangat efektif dan mampu membangkitkan minat para siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar.
      langkah langkah pembuatan power point media gambar meliputi:    
1)      Menyiapkan bahan-bahan gambar atau foto yang dibutuhkan. (2) memiih gambar atau foto yang sesuai dengan materi. (3) kemudian membuat power point media gambar dengan jumlah slide ( gambar yang sudah dipilih atau ditentukan untuk dijadikan bahan ) dengan langkah-angkah sebagai berikut (a) slide 1, didalam slide 1 ini diisi dengan gambar atau foto yang pertama, (b) slide 2, didalam slide ke 2 ini diisi dengan gambar atau foto yang kedua, (c) side 3, didalam slide 3  ini diisi dengan gambar atau foto yang ketiga dan seterusnya. Langkah-langkah di atas merupakan contoh pembuatan power point. Media gambar.

                   
           


   



0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda