Sabtu, 16 Februari 2013

Skripsiku Tentang Peran Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah dan Kesalehan Sosial Di Desa Karangbolong Kebumen


PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN  KESALEHAN SOSIAL
         Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong                        
 Kabupaten Kebumen Jawa Tengah

logo

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Studi Agama Dan Pemikiran Islam Universaitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi  Sebagian Dari Gelar Sarjana Strata Satu (SI) Dalam Program Studi Sosiologi Agama

                       Disusun Oleh :
                                                                          Muhlasin
                                                                     NIM 09540008

                                         PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA                                               FAKULTAS USHULUDDIN STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM       
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN  KALIJAGA 
                                 YOGYAKARTA                                   
2013 


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


 
PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH 
DAN  KESALEHAN SOSIAL
         Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong 
Kabupaten Kebumen Jawa Tengah


                                                                         SKRIPSI
                         
Diajukan kepada Fakultas Ushuluddin Studi Agama Dan Pemikiran Islam Universaitas Islam Negri Sunan Kalijaga Yogyakarta Untuk Memenuhi  Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (SI) Dalam Program Studi Sosiologi Agama

                        Disusun Oleh :
                                                                          Muhlasin
                                                                      NIM 09540008

                                     PROGRAM STUDI SOSIOLOGI AGAMA                                              FAKULTAS USHULUDDIN STUDI AGAMA DAN PEMIKIRAN ISLAM      
                              UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALIJAGA                                       
   YOGYAKARTA 
 2013


Dr.H.Moh.Damami M.Si
Dosen Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal    : Skripsi
            Saudara Muhlasin
                                                                        Kepada  Yth.
                                                                        Dekan FUSAP
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
                                                                        Di Yogyakarta
Assalamu’alaikum. Wr.Wb
Setelah memeriksa dan mengadakan perbaikan seperlunya, maka selaku pembimbing saya menyatakan bahwa skripsi saudara :
   Nama   : Muhlasin
   NIM    : 09540008     
   Prodi   : Sosiologi Agama
Judul    : Peran Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Dan Kesalehan         Sosial  (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong                 Kabupaten Kebumen Jawa Tengah).
Telah dapat diajukan kepada Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan PEMIKIRAN Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar sarjana Strata Satu Sosiologi Agama.
Harapan saya semoga saudara tersrebut segera  dipannggil untuk mempertanggungjawabkan skripsinya dalam siding munaqosyah. Demikian atas perhatiannya duicapkan terima kasih. 
Wassalamu’alaikum.Wr.Wb
                                                                        Yogyakarta,        ,  April 2013
                                                                                    Pembimbing I

                                                                        Dr.H.Moh.Damami M.Si
 
 Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga        FM-UINSIK-PMB-05-05/RO

PENGESAHAN SKRIPSI / TUGAS AKHIR
Nomor : UIN.02/DU/PP.00.9/     /     / 2013
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Skripsi dengan judul :

PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN  KESALEHAN SOSIAL (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah) dipersiapkan dan disusun  oleh :

Nama                                    : Muhlasin
NIM                                     : 09540008
Telah dimunaqosyah pada   :
Nilai munaqosyah                :
Dan dinyatakan telah diterima oleh Fakultas UshuluddinUIN Sunan Kalijaga.
Tim Munaqasyah
Panitia Ujian  Munaqosyah:

Ketua Sidang

-----------------------------   
Penguji I                                                                           Penguji II



------------------------                                                           -----------------
        NIP                                                                     NIP                   Yogyakarta,     April  20013
                                            DEKAN


                                                  Dr.H. Syaifan Nur, M.A
MOTTO

Hidup Dengan Berpegang Teguh Pada Akhlaqul Karimah, Tanggung Jawab dan Disiplin Sebagai Modal Dasar Menuju Keselamatan Dunia Akhirat.

Hiasi Hidup Dengan Keceriaan Meski Dalam Penderitaan.

Hidup Ini Bukan Untuk Mati Tapi Hidup Ini Untuk Maha Hidup Maka Perlu Adanya Iman Ilmu & Amal.

Saya Harus Selalu Maju Dalam Menuju Sukses, Cekatan, dan Suka Mencoba.

Yakin Usaha Sampai.

“Amien Ya Robbal’alamien”





PERSEMBAHAN


Skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1.      Ibunda tercinta “Kaminah” yang telah bersusah payah melahirkanku dan membesarkanku dengan segala usaha dan do’anya hingga ananda berhasil menjadi seorang Sarjana.
2.      Ayahanda tercinta “Parimin” yang sudah memberikan pengorbanan dengan menaruhkan nyawanya demi kesuksesan ananda dalam menuntut ilmu, susahnya ayah dalam mencari nafkah akan selalu ananda kenang sepanjang hayatku.
3.      My love “Ani Lailatul Fauziyah” yang selalu memberikan suport  dan waktunya pada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4.      Bapak Kepala Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen “Sobirin” beserta perangkatnya yang sudah memberikan data sesuai dengan kebutuhan penulis, beserta izinnya kepada penulis untuk melaksanaka penelitian di Desa  Karangbolong Kabupaten Kebumen.
5.      Seluruh anggota Jam’iyah Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Desa Karangbolong Khususnya kepada Bapak Kiyai H. Badrus Syamsi Kwarasan Kebumen (mursyid), Kiyai H. Suparno Karangbolong (ba’dal Mursyid), Bapak Iqbalul Khasan Karangbolong (Ustadz), Rasiman Karangbolong (Ustadz) di mushola Nur Karimah Karangbolong yang telah bersedia untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.
6.      Ketua Takmir Masjid Al-Mustaghfirin Yogyakarta “Sugeng Raharjo” yang sudah memberikan dorongan semangat  dan do’anya serta kepercayaan pada penulis untuk tinggal di Masjid Al-Mustaghfirin Yogyakarta selama kuliah hingga selesai.
7.      Dosen-dosenku semuanya di Ushuluddin yang sudah membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
8.      Teman-temanku semua yang selalu ada dalam setiap penulis susah ataupun senang, selama kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

ABSTRAK
Muhlasin, 2013. Peran Tarekat Qadhiriyah Wa Naqsyabandiyah dan Kesalehan Sosial (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah)  Skripsi. Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam. Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Pembimbing    : Dr.H.Moh.Damami M.Si
Kata kunci      : Tarekat Qadiriyah wa  Naqsabandiyyah, Peran Tarekat Qadiriyah wa Naqsqbandiyyah, Persepsi Sosial,  Aktivitas Ritual, Kesalehan Sosial,
Fenomena adanya tarekat-tarekat kesufian dalam perkembangan keagamaan Islam merupakan salah satu gejala yang selalu menimbulakan kontroversi antara pro dan kontra. Tidak semua masyarakat Islam dapat menerima kebenaran tarekat, sekalipun masyarakat itu berada di wilayah yang tadinya sebagai basis kelahiran dan pusat keunggulan tarekat. Ada alasan yang berbeda dalam mensikapi eksistensi terekat. Ada yang menolak dengan alasan karena tarekat dipandang sebagai gejala ketertinggalan, kemalasan dalam etos kerja ataupun sebagai gejala kebodohan umum yang tidak sesuai dengan jiwa modernisasi saat ini.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah adalah salah satu nama tarekat yang berkembang di Indonesia, dimana penamaan tarekat tersebut didasarkan atas para guru sufi yang menyebarkan ajaran ini  salah satunya yakni Syeh A’bdul Qadir Jailani. Tarekat Qhadiriyah wa Naqsyabandiyah yang ada di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen merupakan salah satu jamaah tarekat yang memiliki  ruang yang cukup transparan dalam menyebar luaskan serta melestarikan ajaran sufi dengan menggunakan metode dzikir sebagai bentuk ritual dari ajaran tasawuf. Selain menjalankan aktifitas ritual para jama’ah tarekat ini juga memiliki dimensi sosial yang sama antara satu dengan yang lainnya yakni dalam tataran status pekerjaan sebagai petani. Hal itu dijadikan sebagai tolak ukur oleh masyarakat Desa Karangbolong dalam meneliti tingkat perkembangan keagamaan yang ada di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran yang dilakukan oleh Jama’ah tarekat Qadhiriyah wa Naqsyabandiyah terhadap masyarakat pada umumnya di Desa Karangbolong. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui makna dan tujuan dari aktifitas ritual yang dilakukan oleh anggota tarekat Qadhiriyah  Wa Naqsybandiyah serta mengetahui persepsi masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen terhadap aktifitas ritual yang dilakukan oleh anggota tarekat Qadhiriyah  Wa Naqsybandiyah dan kesalehan sosial masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Penulis memahami bahwa untuk mendapatkan pemahaman tentang tarekat Qadhiriyah wa Naqsyabandiyah, deskriptif  kualitatif adalah pendekatan yang dirasa tepat. Selain itu, dengan menggunakan metode ini peneliti senantiasa berada dilokasi penelitian dan mengamati serta mengikuti berbagai ritual yang dilakukan tarekat.
Berdasarkan penelitian dan analisis yang penulis lakukan, dapat dapat diambil kesimpulan bahwa bentuk ritual dari tarekat Qhadhiriyah wa Naqsyabandiyah adalah sebuah kegiatan yang dijadikan sebagai rutinitas yang terdiri dari aktifitas
yang berasal dari ajaran pokok yang berupa bacaan dzikir Laa Ilaaha illallah sebanyak seribu kali atau lebih merupakan unsur tarekat Qadhiriyah dan dzikir sir membaca dzikir didalam hati dalam jumlah tertentu yang merupakan unsur tarekat Naqsyabandiyah yang dilaksanakan setelah melaksanakan shalat lima waktu.  
Sedangkan ritual tambahannya yang ada di Desa Karangbolong berupa aktifitas khusyus yakni tawajuhan dengan membaca dzikir dengan berjama’ah dan pemberian tausiyah oleh mursyid atau ba’dal mursidnya sebagai wujud pengamalan terhadap ajaran ritual Tarekat tersebut. Sedangkan tujuan dari keseluruhan aktifitas ritual yang dilaksanakan dalam tarekat Qhadhiriyah wa Naqsyabandiyah adalah mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan secara garis besar tujuan dari keseluruhan ritual yang dilaksanakan itu berupa harapan dari upaya untuk mencapai kedekatan dengan Allah sebagai tujuan akhir. Selain itu penelitian ini juga menemukan bahwa persepsi sosial pengikut tarekat terhadap kehidupan bermasyarakat memiliki kecenderungan positif yang dapat dikategorikan sebagai kesalehan sosial masyarakat yang selalu mempertahankan tradisi demi kemaslahatan sebagai bentuk dari ibadah sosial.










KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Maha Besar Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi umat manusia untuk menguak misteri dalam setiap rahasia yang diciptakanNya. Puji syukur penulis tujukan padaNya yang telah memberikan anugerah kehidupan dan
memberikan kesempatan kepada penulis untuk bisa berproses dalam dunia akademik hingga skripsi ini bisa terselesaikan.
Solawat dan salam penulis sampaikan kepada Nabi muhammad SAW, dengan perjuangannya penulis bisa merasakan nikmatnya iman dan Islam. Alhamdulillah penulis bisa menyelesaikan skripsi ini, meskipun penulis menyadari masih banyak kekurangan Ucapan terimakasih kami tujukan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam proses penulisan skripsi ini, baik yang terlibat secara personal ataupun kelembagaan, terutama pada:
1.      Prof. Dr. H. Musa Asy’arie selaku Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beserta stafnya, kami ucapkan banyak terima kasih atas fasilitas yang diberikan selama penulis kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2.      Dr.H.Syaifan Nur, MA. Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta beserta seluruh stafnya yang telah banyak memberikan pemahaman dan pengalamanya kepada penulis selama studi di Fakultas Ushuluddin Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3.      Drs.H.Mohammad Damami, M.Ag.  Beliaulah yang membimbing penulisan keseluruhan skripsi ini sampai selesai.
4.      Kiyai H. Suparno selaku ba’dal mursyid di Desa Karangbolong beserta jama’ahnya.                                                                                                      
5.      Seluruh jajaran Pengurus Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen beserta  
                masyarakatnya.                                                                                                                   
6.      Sahabat-sahabatku anggota HMI Komisariat Ushuluddin yang telah membantu mendewasakan penulis, teruskan perjuangan kalian. Tak lupa pula sahabat-sahabat semua HMI Komisariat-komisariat dibawah lingkup HMI Cabang Yogyakarta.
Dengan penuh kesadaran, skripsi ini jauh dari kesempurnaan. Maka dari itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna kebaikan penulis secara pribadi dan perkembangan ilmu pengetahuan yang tak akan pernah habis.
Wallahul Mufafiq Ila Aqwamitthoriq
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.                          
 Yogyakarta 23 Desember 2013
Penulis




Muhlasin                                    NIM 09540008                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
                                                                                                                                                                                                                                               
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………                    i
HALAMAN NOTA DINAS…………………………………………                    ii
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………….                    iii
HALAMAN MOTTO……………………………………………....                      iv
HALAMAN PERSMBAHAN………………………………………                     v
ABSTRAK……………………………………………………………                    vi
KATA PENGANTAR……………………………………………….                    ix
DAFTAR ISI…………………………………………………………                     xi

BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah……………………………………….                      1
B.     Rumusan Masalah……………………………………………..                      5
C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………..                      6
D.    Tinjauan Pustaka………………………………………………                      7
E.     Landasan Teori………………………………………………...                      8
F.      Metode Penulisan……………………………………………...                      12
G.    Sistematika Pembahasan………………………………………                      14
BAB II  :      GAMBARAN UMUM DESA KARANGBOLONG KABUPATEN    KEBUMEN
A.      Kondisi Geoggrafis……………………………………………                     17
B.       Kondisi Sosial-Ekonomi……………………………………...                      19 
C.       Kondisi Tingkat Pendidikan……………………………………                   22
D.      Kondisi Sosial Budaya…………………………………………                    22
E.       Kondisi Keagamaan Masyarakat………………………………           26
BAB III : TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH SERTA  PERANANNYA DALAM MENCIPTAKAN KESALEHAN SOSIAL DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN KEBUMEN
A.      Pengertian Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah………….                      28
B.       Peran Yang Dibangun Oleh Jama’ah tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Dengan masyarakat DI Desa Karangboolong Kabupaten Kebumen…………………………………………………………         32
C.       Tanggapan Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen terhadap aktifitas tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah……………...
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………….
B.     Saran – Saran……………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
CURICULUM VITAE



BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK IKUT DALAM AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG TERCIPTANYA KESALEHAN SOSIAL  DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN  KEBUMEN




Skripsi dengan judul :

PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN  KESALEHAN SOSIAL
(Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah) dipersiapkan dan disusun  oleh :

Nama                                    : Muhlasin
NIM                                     : 09540008
Telah dimunaqosyah pada   :
Nilai munaqosyah                :
Dan dinyatakan telah diterima oleh Fakultas UshuluddinUIN Sunan Kalijaga
Tim Munaqasyah
Panitia Ujian  Munaqosyah:
Ketua Sidang

-----------------------------   
Penguji I                                                                           Penguji II



------------------------                                                           -----------------
        NIP                                                                                  NIP
                                             Yogyakarta,  April  20013
                                      DEKAN


                                                         Dr.H. Syaifan Nur, M.A

KERANGKA DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………                    i
HALAMAN NOTA DINAS…………………………………………                    ii
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………….                    iii
HALAMAN PERSMBAHAN………………………………………                     iv
HALAMAN MOTTO…………………………………………….....                     v
KATA PENGANTAR……………………………………………….                    vi
DAFTAR ISI…………………………………………………………                     viii

BAB I : PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah……………………………………….                      1
B.     Rumusan Masalah……………………………………………..                      5
C.     Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………..                      6
D.    Tinjauan Pustaka………………………………………………                      7
E.     Landasan Teori………………………………………………...                      8
F.      Metode Penulisan……………………………………………...                      12
G.    Sistematika Pembahasan………………………………………                      15


BAB II  :      GAMBARAN UMUM DESA KARANGBOLONG KABUPATEN    KEBUMEN
A.      Kondisi Geoggrafis……………………………………………                     17
B.       Kondisi Sosial-Ekonomi……………………………………...                      19 
C.       Kondisi Tingkat Pendidikan…………………………………..                     22
D.      Kondisi Sosial Budaya………………………………………..                      22
E.       Kondisi Keagamaan Masyarakat……………………………...

BAB III : TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH SERTA  PERANANNYA DALAM MENCIPTAKAN KESALEHAN SOSIAL DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN KEBUMEN
A.      Pengertian Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah………….
B.       Relasi Yang Dibangun Oleh Jama’ah tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Dengan masyarakat DI Desa Karangboolong Kabupaten Kebumen………………………………………………………
C.       Tanggapan Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen terhadap aktifitas tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah……………...
BAB V PENUTUP
A.    Kesimpulan……………………………………………….
B.     Saran – Saran……………………………………………..
DAFTAR PUSTAKA
CURICULUM VITAE



BAB IV : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK IKUT DALAM AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG MENDUKUNG TERCIPTANYA KESALEHAN SOSIAL  DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN  KEBUMEN



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Dalam era modern saat ini masyarakat pada umumnya telah banyak yang mengalami degradasi moral, sehingga banyak masyarakat yang kurang peduli lagi terhadap nilai  ataupun norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga dalam aktivitas kesehariannya masyarakat semakin jauh dari aturan-aturan agama. Hal itu salah satunya disebabkan karena generasi muda saat ini pada umumnya  sudah kurang atau bahkan tidak mau mengerti dan tidak mau mempelajari  budaya lokal serta tradisi yang masih ada. Budaya lokal yang dimaksud adalah kebudayaan daerah atau kebudayaan suku, dalam bahasa sehari-hari istilah kebudayaan lokal sering diidentikan dengan kebudayaan daerah[1].        
Di Desa Karangbolong khususnya, kebudayaan lokal saat ini sudah semakin menjauh atau bahkan menghilang dari kehidupan masyarakat. Seiring dengan adanya perkembangan zaman memberikan perubahan pula terhadap persepsi masyarakat,  masyarakat yang tadinya masih mempercayai anemisme dinamisme dengan melakukan ritual peribadatan tersendiri yaitu adanya masyarakat yang membuat sesaji pada setiap malam jum’at kliwon dengan tujuan untuk memberikan ucapan terimakasih atau sesembahan kepada para leluhur, dan sesaji itu ditaruh di depan rumah. Membuat sesaji untuk leluhur penunggu tempat-tempat keramat, pohon besar ataupun pada batu besar.  Tradisi tersebut sedikit demi sedikit mulai dirubah dengan melalui bimbingan ajaran agama Islam yang dengan sabar terus-menerus diberikan oleh Kiyai atau para tokoh agama kepada masyarakat di Desa Karangbolong. Salah satu hal yang sudah  berhasil yakni merubah persepsi masyarakat dengan melalui ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah, yang sampai saat ini setiap tahun selalu bertambah jumlah jamaahnya. Jamaah atau masyarakat yang mengikuti ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini sebagian besar adalah dari kalangan tua atau yang sudah berumah tangga. Karena menurut persepsi masyarakat Desa Karangbolong mengatakan bahwa tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini merupakan suatu jalan atau proses untuk mensucikan hati sehingga kessempurnaan hidup akan semakin dapat dirasakan dalam kehidupan yang fana ini. Hal ini terbukti dengan adanya perkumpulan atau jamaah tarekat yang mengikuti serta mengamalkan ajaran tersebut secara rutin istiqamah yang dilaksanakan dua kali dalam satu minggu yaitu setiap malam senin dan malam kamis yang dipimpin oleh bapak H.Suparno sebagai salah satu tokoh agama di Desa Karangbolong[2].             
          Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini merupakan nama sebuah tarekat penggabungan dari tarekat Qadiriyah dengan tareqat Naqsabandiyyah yang dilakukan oleh syaikh Ahmad Khatib Al-Sambasi al-Jawi. Ia merupakan ulama besar dari Indonesia yang diangkat menjadi imam di Masjidil Haram di Makkah al-Mukaramah pada pertengahan abad kesembilan belas. Ia tinggal di Makkah sampai akhir hayatnya di Makkah. Ia wafat pada tahun 1878. Ahmad Khatib Al-Sambasi selama di Makkah sebagai seorang guru mursyid yang kamil mukammil. Ahmad Khatib sendiri tidak menulis sebuah karangnan atau sebuah kitab pun, tetapi   Ahmad Khatib memiliki dua orang dari murid-muridnya yang dengan setia selalu merekam ajaran-ajarannya. Dalam sebuah risalah pendek berbahasa melayu dijelaskan dengan gamblang menjelaskan teknik-teknik dari tarekat ini. Salah satunya adalah karya Fath Al-A’rifin yang dianggap oleh semua khalifah dimasa itu sebagai karya yang paling dapat dipertanggungjawabkan mengenai tarekat. Dari karya tersebut menguraikan tentang baia’t, dzikir, serta teknik-teknik peribadatan lain, baik dari segi tarekat Qadiriyah maupun dari tarekat Naqsabandiyyah[3].  
          Sesuai dengan uraian tersebut tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yang terdapat di Indonesia merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang berbeda akan tetapi tidak diamalkan secara bersama-sama, atau lebih jelas lagi bahwasannya tarekat Qadiriyah wa Naqsasbandiyyah ini lebih merupakan sebuah tarekat yang baru dan berdiri sendiri, yang didalamnya terdapat unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan juga Naqsabandiyyah yang telah dipadukan menjadi suatu yang baru.  Dari segi ini, tarekat tersebut menyerupai tarekat gabungan yang ada sebelumnya semacam tarekat Khalwatiyah-Yusuf  (dalam tarekat ini Yusuf menggabungkan unsur-unsur Syattariyah dan Naqsabandiyyah dengan  unsur-unsur Khalwatiyyah).
          Tarekat ini secara garis besar adalah the way of purification jalan penyucian diri, adapun ajaran dan praktek tarekat ini merupakan ajaran kesufian dengan sistem relasi guru dan murid tertentu yang pada kenyataannya berkembang ke pelosok dunia Islam. Pada tahap inilah pola hubungan penyucian mengeras dalam bentuk relasi guru dan murid.
Cara dzikir dalam tarekat ini terbagi menjadi dua bagian yaitu:

1.              Dzikkir Ism Al-Dzat (Allah)
Dzikir ini merupakan dzikir yang wajib diamalkan oleh jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqssabandiyyah dengan tujuan utamanya untuk mengingat nama yang haqiqi serta mengingat keesaan Allah SWT. Adapun pelaksanaan dalam melaksanakan dzikir ini yaitu dengan menggunakan hati atau dalam kata laindisebut dzikir sir. Dzikir sir merupakan dzikir hati yang diawali dengan mengucapkan nama Allah berulang-ulang dalam hati, ribuan kali (dihitung dengan butiran tasbih), sembari memusatkan perhatian kepada Tuhan semata, serta mengingat-ingat wajah mursyidnya sejenak dalam berdzikir dan mengucapkan terimakasih kepadanya dalam hati.
2.              Dzikir Binafiy Wa Isbat
Dzikir ini dilaksanakan dengan cara lisan disertai dengan menggunakan hati. Dzikir ini sangat disarankan untuk mengikutsertakan gerakan anggota tubuh dalam berdzikir. Adapun dzikir yang diucapkan adalah kalimat toyyibah La illaha illalloh dengan disertai  dengan pengaturan napas, dan membayangkan seperti jalan (garis). Aturan dalam mengucapkan dzikir dalam ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yakni : Bunyi la   diucapkan dengan permulaan dari daerah pusar terus ke atas sampai ke ubun-ubun. Bunyi illaha turun ke kanan dan berhenti diujung bahu kanan kemudian, kata illa dimulai dan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung, dan kearah jantung inilah kata terakhir Allah dengan dihujamkan sekuat tenaga. Dzikir ini merupakan ritual pokok  yang harus diamalkan oleh para jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah. Setiap selesai melaksanakan ibadah shalat fardu baik diamalkan dengan berjama’ah ataupun personal. Dalam membaca dzikir tersebut, jamaah tetap dalam posisi duduk serta diikuti dengan menggerakan kepala sesuai dengan aturan dalam dzikir ini[4].
Ajaran tarekat ini terus berkembang ke berbagai pelosok nusantara dan perkembangan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini tidak bisa lepas dari peran para murid syaikh Ahmad Khatib Al-Sambas, yang salah satunya adalah Abdul  Karim Banten. Abddul Karim merupakan ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Jawa. Abdul Karim diangkat menjadi mursyid  oleh syaikh Ahmad Khatib Al-Sambasi untuk menggantikan kedudukan sebagai pemimpin tertinggi tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di kota suci Makkah[5]
         



B.  Rumusan Masalah
          Dari latar belakang masalah diatas dapat diambil beberapa rumusan masalah sebagai  berikut:
1.    Bagaimana peran sosial yang dibangun  oleh jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah dengan masyarakat umum di desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen?
2.    Bagaimana tanggapan serta kesan masyarakat Desa Karangbolong terhadap aktifitas yang dilakukan oleh jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen ?

C.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.             Tujuan penelitian
          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran sosial yang dibangun oleh Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah dengan masyarakat umum di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen. Selain itu,   penelitian  ini juga bertujuan untuk mengetahui bagaimana tanggapan serta kesan yang diberikan oleh masyarakat Desa Karangbolong terhadap aktifitas yang dilakukan oleh jama’ah tarekat jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.




2.             Manfaat penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
a)    Sebagai sumber pengetahuan, dalam memahami peran sosial yang dibangun oleh jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah dengan masyarakat umum di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen .
b)   Untuk mengetahui tanggapan serta kesan yang diberikan oleh masyarakat Desa Karangbolong terhadap aktifitas jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah  di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
c)    Sebagai refrensi generasi penerus atau generasi muda di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen dalam memahami tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah.

D.  Tinjauan Pustaka
          Peran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong merupakan objek penelitian yang penulis lakukan. Setelah penulis mengadakan pengamatan dilapangan tentang obyek tersebut, hasilnya menunjukan bahwa obyek yang hendak penulis teliti belum pernah diteliti oleh siapapun. Apapun yang membahas atau memfokuskan pada Peran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong ini belum ada. Sementara dalam penelitian ini penulis akan mencoba meneliti tentang peran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah  dan kesalehan sosial pada masyarakat Desa Karangbolong.
          Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa buku yang membahas terkait dengan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah sebagai bahan rujukan oleh peneliti. Diantaranya buku-buku yang penulis gunakan adalah Hakikat Tarekat Naqsabandiyyah karya H.A.Fuad Said,  Tarekat Naqsabandiyyah Di Indonesia karya Martin Van Bruinessen, dan refrensi-refrensi penguat lainnya.
            Dalam buku karya H.A.Fuad Said dijelaskan bahwa tarekat menurut bahasa ialah “jalan”, “cara”, “garis”, “kedudukan”, “keyakinan”, dan “agama”. Kamus modern Dictionary Arabic – English oleh Elias Anthon dan Edward Elias, edisi IX, Kairo tahun  1954 menyatakan bahwa tarekat adalah “way” (cara atau  jalan), “method” dan “system of belief” (methoda dan suatu system kepercayaan).[6]  Sedangkan Tarekat menurut kalangan sufi “ulama tasawuf” adalah :
a). Tarekat merupakan jalan menuju Allah dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fikih dan Tasawuf.
b). Tarekat merupakan cara atau kaifiat untuk mengerjakan sesuatu amalan untuk mencapai suatu tujuan.
          Berdasarkan beberapa definisi tersebut jelaslah bahwa tarekat merupakan  suatu jalan atau cara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, fikih dan Tasawuf.

E.  Landasan Teori
          Kajian mengenai tradisi atau budaya keagamaan khususnya dalam melakukan penelitian tentang Peran Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah dan kesalehan sosial di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen tentunya memerlukan cara pandang atau pendekatan untuk memahami dan untuk menjelaskan obyek yang akan diteliti. Suatu teori pada hakikatnya merupakan  hubungan antara dua fakta atau lebih, atau pengaturan  fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati serta dapat diuji secara empiris[7], dalam penelitian ini penulis menggunakan satu teori  yakni :

1.             Teori Peran Sosial
Peran (role) sangat berkaitan erat dengan kedudukan (status) karena dalam teori sosiologi hal tersebut merupakan unsur-unsur baku dalam  membentuk sistem lapisan masyarakat. Peran dan kedudukan mempunyai arti penting bagi sistem sosial karena sistem sosial merupakan pola-pola yang mengatur hubungan timbal balik antara individu dengan masyarakatnnya, dan tingkah laku individu-individu tersebut. Dalam hubungan-hubungan timbal balik tersebut, peran dan kedudukan menjadi sebuah hal yang penting karena kelanggengan masyarakat tergantung pada keseimbangan kepentingan-kepentingan individu-individu dimaksud[8]. Untuk mendapatkan gambaran yang sesuai dengan objek penelitian     tentang taerekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong, teori peran sosial yang penulis maksudkan yakni kedudukan merupakan unsur yang penting di dalam lapisan masyarakat karena dengan tanpa adanya kedudukan individu atau kelompok akan sulit untuk berperan. Khususnya dalam lingkaran tarekat Qadiryah wa Naqsabandiyyah juga terdapat kedudukan antara guru (mursyid) dan murid yang masing-masing memiliki peranan. Dalam sebuah buku karya Martin Van Bruinessen diterangkan bahwa tarekat sebagai sebuah institusi  hal yang dilembagakan, dan   menjadi suatu yang baru yang tidak pernah ada dalam islam yang asli. beberapa penulis modern telah sampai pada dukungan terhadap pandangan “dalam” bahwa setiap Tarekat mewakili suatu sikap spiritual tersendiri yang telah ada sejak semula[9].  
          Dari situlah penulis menggunakan teori perubahan sosial serta teori peran sosial dalam melakukan penelitian ini karena pada dasarnya setiap masyarakat mengalami perubahan sepanjang masa. Perubahan itu ada yang samar, ada yang mencolok, ada yang lambat, ada yang cepat, ada yang sebagian atau terbatas serta ada yang menyeluruh. Perubahan dapat berupa pergeseran nilai sosial, perilaku, susunan organisasi, lembaga sosial, sertifikasi sosial, kekuasaan dan wewenang. Semua perubahan itu ada yang maju (progress) dan ada yang mundur.
          Inti perubahan sosial ialah faktor dinamika manusianya yang kreatif serta factor perannannya dalam kehidupan bermasyarakat. Anggota masyarakat harus bersikap terbuka bahkan ia secara kreatif menciptakan kondisi perubahan. Perubahan sosial bersifat berantai melibatkan segala aspek kehidupan dan kadang diselingi gejolak konflik berupa proses perubahannya[10].    


     

F.   Metode Penelitian
              Jenis penelitian yang penulis teliti  ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1.             Lokasi Penelitian
          Penelitian ini penulis memilih berada di Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Desa Karangbolong merupakan desa yang berada dipesisir pantai selatan dan letak geografisnya berada di daerah dataran tinggi atau pegunungan. Alasan penulis memilih lokasi tersebut sebagai lokasi penelitian sebagai berikut :
a)         Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen merupakan desa yang memiliki beragam sejarah kebudayaan ataupun tradisi. Karena Desa Karangbolong termasuk dalam desa pinggiran maka masyarakat yang ada di desa tersebut masih banyak yang mengikuti ajaran anemisme dinamisme, hal itu terbukti dengan adanya tempat-tempat yang dikeramatkan dan digunakan sebagai tempat pemujaan. Selain hal tersebut terdapat suatu hal yang menarik penulis untuk melakukan penelitian yaitu ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yang dianut oleh sebagian banyak masyarakat di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.        
b). Di Desa Karangbolong ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah memiliki daya tarik tersendiri bagi penulis untuk melakukan penelitian karena   banyak fenomena yang terjadi pada masyarakat tersebut, sehingga menjadi perhatian khusus bagi penulis untuk mengamati dan menganalisis relasi sosial serta peran yang dibangun oleh jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah dengan masyarakat pada umumnya. Adapun fenomena-fenomena yang terjadi pada jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini secara langsung mempengaruhi gejala sosial yang ada pada masyarakat, dengan asumsi bahwa ketika masyarakat turut bergabung dan berpartisipasi dengan jamaah tarekat tersebut maka jaminannya adalah surga. Maka  disitulah terbentuk kesalehan sosial pada masyarakat di Desa Karangbolong.    

2.             Teknik Pengumpulan Data
          Karena penelitian ini difokuskan pada penelitan lapangan, maka pada tahap pengumpulan data penelitian kualitatif ini penulis menggunakan sistem pengumpulan data sebagai berikkut :
          a).  Wawancara Mendalam
          Wawancara adalah bentuk komunikaasi antara dua orang atau lebih, melibatkan  seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seseorang lainnya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, berdasarkan tujuan tertentu. Wawancara secara  garis besar dibagi menjadi dua, yakni wawancara tidak terstruktur dan wawancara  terstruktur. Wawancara terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam, wawancara intensif, wawancara kualitarif  dan wawancara terbuka (open ended interview). Wawancara terstruktur ini juga sering disebut dengan wawancara baku (standardized interview), yang susunan pertanyaannya sudah ditetapkan sebelumnya oleh peneliti (biasanya tertulis) dengan pilihan-pilihan yang juga sudah disediakan.
          Adapun wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang mirip dengan percakapan informal. Metode ini bertujuan memperoleh bentuk-bentuk tertentu informasi dari semua responden, tapi  susunan kata dan urutannya disesuaikan dengan cirri-ciri responden.[11] 
b). Dokumentasi
     Dokumentasi yang penulis gunakan menggunakan kamera foto untuk mengambil gambar-gambar yang mendukung proses penyusunan skripsi ini serta alat recorder untuk merekam suara responden ketika penulis melakukan wawancara. Dokumentasi ini merupakan salah satu metode dalam pengumpulan data yang digunakan dalam metodologi penelitian kualitatif. Metode ini bertujuan untuk menelusuri data historis serta untuk mendokumentasikan hasil dari penelitian yang penulis lakukan. sehingga dengan demikian pada penelitian ini dokumentasi sangat berperan penting[12]

3.             Teknik Analisis Data
          Analisis data merupakan sebuah  proses mengorganisir data serta mengurutkan data ke dalam tema sehingga data tersebut dapat dirumuskan menjadi  struktur yang disarankan oleh data. Pekerjaan analisis data dalam hal ini adalah mengatur, mengurutkan, mengelompokan dan mengkategorikannya. Untuk menganalisa data yang penulis peroleh, penulis menggunakan metode deskriptif analisis yang artinya adalah data yang berbentuk ucapan, tulisan, perilaku yang dapat diperoleh dalam penelitian dilampirkan secara kualitatif untuk memperoleh kesimpulan[13].

4.             Sistematika Pembahasan
Dalam penyusunan proposal skripsi ini penulis akan menyusun sistematika pembahasan dengan tujuan pembahasannya memiiki alur logika yang jelas dan sistematis sehingga lebih mudah dipahami.  Karena itu penulis akan menguraikan sistematika pembahasannya sebagai berikut :
Pada Bab I, berisi  latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan fungsi penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, teknik pengumpulan data, dan sistematika pembahasan.
Bab II, merupakan bab yang berisi gambaran umum lokasi penelitian, termasuk kondisi geografis, kondisi ekonomi masyarakat, kondisi tingkat pendidikan, kondisi sosial budaya, serta corak keberagamaan masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
Bab III, merupakan bab yang membahas tentang pengertian tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah dan peran yang dibangun oleh jamaah tarekat Qadiriyah wa Naaqsabanndiyya kepada masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen serta tanggapan masyarakat Desa Karangboolong terhadap aktifitas tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah,  di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.   
Bab IV, pada bab ini akan dibahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk ikut dalam ajaran tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah serta faktor-faktor yang mendukung terciptaanya kesalehan sosial di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.    
Bab V, merupakan bab penutup, yang didalamnya berisi kesimpulan dari penelitian serta saran-saran.












[1]Khadik, Islam Dan Budaya Lokal, (Yogyakarta :Teras.2009). Hlm.48           
[2] Wawancara dengan Bapak Iqbalul Khasan Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen  pada hari senin Tgl 03 September 2012 pukul 18.30 -21.00  WIB. Dalam kasus ini, pengamatan bahwa tareqat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah merupakan suatu jalan lurus atau jembatan untuk menuju ridllo Allah SWT serta untuk membersihkan diri: Bapak Iqbalul Khasan termasuk warga masyarakat Desa Karangbolong yang juga merupakan tokoh ulama muda.
[3]Martin Van Brunesssen, Tarekat Naqsabandiyyah di Indonesia. (Bandung : Mizzan, 1999),  hlm. 89

[4] Martin Van Brunesssen, 1999  . Tarekat Naqsabandiyyah di Indonesia. Hlm. 96
[5] Rohim,Dinamika Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Pondok Pesanttren Surya Buana Mgl,  (Yogyakarta: Skripsi, 2007), hlm.18
[6] H.A.Fuad Said, Hakikat Tarikat Naqsabandiyyah.  (Jakarta : PT.Al Huzna Zikra,1996)Hlm. 1

[7] Soerjono Soekamto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. 2007) Hlm.26
[8] Soerjono Soekamto, 2007,  Sosiologi Suatu Pengantar…, Hal.209
[9] Martin Van Brunesssen, , 1999   . Tarekat Naqsabandiyyah di Indonesia. Hlm.47
[10] Syahrial Syarbaini Rusdiyanta, 2009,  Dasar-dasar Sosiologi, hlm.134
[11] Deddy Mulyana,Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2004),.Hlm.180-181
[12]Burhan Bungin. Penelitian Kualitatif, (Jakarta : Prenada Media Group,hlm.129)
[13]Robert Bodan, Pengantar Metode Penelitian KKualitatif Suatu Pendekatan Fenomenoologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosal, (Surabaya : Usaha Nasional, 1992). Hlm.80 

BAB II
GAMBARAN UMUM DESA KARANGBOLONG
KABUPATEN KEBUMEN


A.           Kondisi Geoggrafis

Secara geografis desa  Karangbolong Kabupaten Kebumen merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Buayan.
Batas wilayah dari desa Karangbolong Kabupaten Kebumen meliputi:
1.             Sebelah selatan berbatasan langsung dengan laut selatan samudra Hindia.
2.             Sebelah timur berbatasan dengan sungai bengawan yang membatasi antara Desa Wisata Suwuk Kecamatan Puring, Kebumen dengan Desa Karangbolong.
3.             Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Gupit Kecamatan Buayan, Kebumen.
4.             Sebelah barat berbatasan dengan Desa Banjararjo Kecamatan Ayah serta berbatasan dengan Desa Tambi Kecamatan Ayah, Kebumen.
          Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen ini sebagian besar adalah daerah pegunungan yang terbagi menjadi 12 RT dan 3 RW. Desa Karangbolong dipimpin oleh Kepala Desa. (Monnografi Desa Karangbolong, 02 Januari 2013 di Balai Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen)

Adapun strukturnya sebagai berikut :
Kepala Desa
Sobirin
Ketua RW 1
Kasturi
Ketua RW2
Slamet
Ketua RW 03
Wasimin
Ketua RT 1
Hasbullah
Ketua RT 1
Jumahdi
Ketua RT 01
Sama

KADUS I
Dusun Mangggis

Ngadiyo

KADUS III
Dusun Gedong

Rasto

KADUS IV
Dusun Genjah

Maslam
KADUS II
Dusun Boranda

Mujiyatun
 








Ketua RT 02
Marsid

Ketua RT 03
Gamin

Ketua RT 04
Eko Suripno

Ketua RT 2
Jamil
Ketua RT 3
Pasiman

Ketua RT 4
Supono

Ketua RT 2
Suharyadi

Ketua RT 4
Rohani

Ketua RT 3
Umardi

 







Sesuai dengan data yang penulis peroleh dari bapak sakirin selaku pengurus di balai Desa Karangbolong bahwa penduduk di Desa Karangbolong sampai tahun 2012 secara keseluruhan berjumlah dua ribu enam ratus (2600) jiwa dengan rincian masyarakat berkelamin laki-laki sebanyak seribu tiga ratus empat puluh satu (1341) jiwa dan masyarakat dengan kelamin perempuan sebanyak seribu dua ratus lima puluh Sembilan (1259) jiwa.

B.            Kondisi Sosial-Ekonomi  


Terkait kondisi perekonomian masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten  Kebumen beraneka ragam diantaranya adalah sebagai nelayan, petani, pedagang, dan wiraswasta lainnnya. Dari keberagaman tersebut sebagian besar masyarakat Desa Karangbolong bekerja sebagai petani dan pembuat gula merah dari air tirah pohon kelapa. Oleh karena itu penulis sangat tertarik untuk meneliti salah satu sistem matapencaharian pokok yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat.
Sesuai dengan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan bapak Sakirin (penggurus balai Desa  Karangbolong) menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Karangbolong rata-rata berekonomi cukup atau kelas menengah. Adapun lapangan kerja yang terbanyak digeluti masyarakat di DeSa Karangbolong  yakni bekerja sebagai petani dan pembuat gula merah  dari pohon kelapa. Masyarakat yang bekerja sebagai petani adalah masyarakat yang bekerja dengan mengolah tanah ladang yang dimilikinya untuk bercocok tanam baik padi ataupun palawija lainnya.    Adapun masyarakat yang bekerja sebagai pembuat gula merah yaitu masyarakat yang setiap harinya nderes mengambil nira dari manggar pohon kelapa untuk membuat gula merah dan dijual setiap minggu sekali kepada pengepul. Hasil yang diperoleh dari usaha tersebut rata-rata  setiap minggunya keluarga akan mendapatkan hasil yang tidak kurang dari sekitar Rp, 700.000 sampai Rp, 1.000.0000 tergantung seberapa banyak keluarga memiliki pohon kelapa yang sudah produktif. Selain itu juga banyak masyarakat yang menggunakan sistem maro bagi hasil. Sistem maro bagi hasil itu dilakukan karena masyarakat di Desa Karangbolong  tidak semuanya memiliki lahan pohon kelapa, dari problem itu maka masyarakat yang memiliki lahan pohon kelapa memberikan sebagian pohon kelapanya kepada masyarakat yang masih membutuhkan lahan guna menambah penghasilan keluarganya. Sistem maro bagi hasil ini tidak terbatas waktunya tergantung kesediaan masyarakat yang siap bekerja sama dengan pemilik lahan, biasanya dalam sistem bagi hasil ini terjadi hubungan yang baik antara pemilik tanah dengan masyarakat yang siap bekerja sama tersebut. Untuk pembagian hasilnya yaitu setiap dua hari satu kali[1].
Sebagai sampel penulis mengambil dua keluarga yang memiliki lahan pohon kelapa dan dua keluarga yang bekerja dengan sistem maro bagi hasil yakni:
1.    Keluarga bapak Sanbarjo atau bapak Sijo beliau memiliki lahan pohon kelapa dengan tiga tempat yaitu di Dusun Genjah, Dusun G’G dan Dusun Prangkokan Desa Banjarharjo Kebumen. Pohon kelapa yang beliau miliki sekitar 200 pohon. Dalam keluarga Bapak Sanbarjo ada tiga orang yang nderes menggambil nira dari pohon kelapa yaitu beliau sendiri dengan menantunya yang bernama Romelan dan Bapak Sarpin tetangganya yang maro menggunakan sistem bagi hasil.         
2.    Keluarga bapak Parimin, beliau memiliki tiga lokasi lahan pohon kelapa dengan jumlah pohon kelapa yang sudah produktif sekitar 150 pohon. Adapun lokasi lahan pohon kelapa tersebut yakni di Dusun Boranda, Dusun Gedong dan Dusun Genjah, semua lokasi tersebut termasuk dalam desa Karangbolong. Bapak parimin merupakan salah satu masyarakat desa Karangbolong yang berprofesi sebagai wira swasta. Karena itulah semua pohon kelapa yang masih produktif milikinya  di  deres (mengambil air nira) dengan sistem maro bagi hasil oleh Bapak Riso, Bapak Sapari, dan Bapak Agung. Bapak-bapak tersebut masih merupakan saudara dari Bapak Parimin.[2]
Demikian dua keluarga  yang penulis ambil sebagai sampel dalam sistem perekonomian di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen. Desa Karangbolong sendiri memiliki 1 pasar umum yang berfungsi sebagai pusat belanja dan menjual hasil  pertanian masyarakat yaitu pasar Karangbolong yang terletak bersampingan dengan gedung Balai Desa Karangbolong.     


C.           Kondisi Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan warga masyarakat Desa Karangbolong sesuai dengan catatan  dokumen yang ada di Balai Desa Karangbolong sampai tahun 2012  sebagai berikut :
1.      Tingkat SD sebanyak Sembilan ratus empat puluh lima (945) orang.
2.      Tingkat SLTP sebanyak Enam ratus sebilan puluh (690) orang.
3.      Tingkat SLTA sebanyak Lima ratus empat puluh lima (545) orang.
4.      Tingkat Perguruan Tinggi D3 sebanyak Sebelas (11) orang.
5.      Tingkat Perguruan Tinggi S1 sebanyak Dua belas orang.
Adapun fasilitas pendidikan yang dimiliki oleh Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen yakni dua gedung sekolah TK, satu gedung sekolah MI dan satu gedung SD[3].   

D.           Kondisi Sosial Budaya

Kondisi sosial dan budaya di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen sampai saat ini masih terjaga kelestariannya hal itu disebabkan dengan masih adanya jiwa sosial yang  masih tinggi dalam kehidupan masyarakat karangbolong yaitu antara individu satu dengan individu lainnya selalu memiliki rasa kebersamaan. Kondisi sosial di Desa Karangbolong ini sangat berbeda dengan kondisi sisial di daaerah kota, yang mana masyarakat Desa Karangbolong selalu mengedepankan aspek kebersamaan atau aspek kekeluargaan, sehingga kenyamanan dalam berinteraksi antar masyarakat dapat terwujud sedangkan masyarakat kota akan lebih banyak cendrung ke aspek individualisme [4]. Selain kondisi sosial tersebut, kondisi budaya juga masih banyak yang dijaga kelestariannya oleh masyarakat Desa Karangbolong diantaranya adalah budaya-budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang seperti budaya Kenduren atau slametan, Kondangan, Sambatan, Kriganan,Muyi adapun untuk lebih detailnya adalah sebagai berikut:
a.    Budaya Kenduren atau Slametan  adalah upacara sedekah makanan dan do’a bersama yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan ketentraman untuk ahli keluarga yang mennyelenggarakannya, biasanya untuk hajatan keberangkatan anaknya yang mau berangkat sekolah ke luar daerah, pendirian rumah baru, keberangkatan orang yang mau naik Haji, mau memberi nama pada bayi dan lain sebagainya dengan harapan supaya masa depannya akan lebih cemerlang[5]. Budaya kenduren atau slametan ini merupakan kegiatan batiniyah yang bertujuan untuk mendapat ridha dari Tuhan sehingga Budaya tersebut menjadi sebuah tradisi yang diakui keberadaannya oleh masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
b.   Budaya Kondangan adalah kegiatan memberikan bantuan kepada  masyarakat disekitarnya yang sedang mengadakan suatu hajat besar seperti hajatan dalam pernikahan, sunatan, dan lain sebagainya. Adapun bantuan yang diberikan selain uang yaitu berupa sembako atau bahan-bahan pokok makanan seperti beras, minyak goreng ataupun sayuran. Hal itu dilakukan secara dengan penuh kesadaran bahwasannya ada rasa untuk saling membantu antar masyarakat yang satu dengan yang lainnya dan budaya kondangan ini terus berputar atau bergantian sesuai dengan hajat yang ada pada setiap masyarakat.
c.    Budaya Sambatan adalah kegiatan gotong royong yang dilakukan masyarakat untuk membantu beban suatu penduduk masyarakat setempat seperti contohnya adalah masyarakat yang akan mendirikan rumah maka perlu adanya sambatan untuk membantunya biasanya dipimpin oleh ketua RT atau ketua RW setempat.
d.   Budaya Kriganan adalah kegiatan bersama oleh masyarakat baik dari kalangan muda ataupun tua  menjadi satu untuk melakukan bersih desa, biasanya kegiatan ini dilakukan setiap akan menyambut hari-hari besar seperti sebelum hari peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sebelum puasa bulan ramadhan, atau seelum hari raya idul fitri. Hal ini bertujuan untuk memperkuat tali kebersamaan dalam masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen.
e.    Budaya Muyi adalah kegiatan  yang dilakukan oleh Ibu-ibu untuk menjenguk masyarakat yang baru mendapatkan seorang  bayi. kalimat Muyi  itu sendiri diberi makna oleh masyarakat “ketemu bayi”. Maksud dari budaya ini tidak lain juga untuk memperkuat kultur yang ada di Desa Karangboolong sehingga masyarakat Desa Karangbolong tetap guyub dan rukun[6].
Selain budaya tersebut Di Desa Karangbolong budaya juga berkembang sesuai dengan adanya perkembangan jaman dan proses regenerasi masyarakat. Yang mana masyarakat dahulu kebanyakan adalah masyarakat yang hanya mengenyam pendidikan sampai di tingkat Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Dasar (SD) yang hal tersebut sangat mempengaruhi cara pandang ataupun cara pikir masyarakat.
Dengan adanya perkembangan jaman yang terus berkembang akhirnya banyak masyarakat Desa Karangbolong yang mulai  merubah cara pandang terdahulu yang hanya berpandangan “asal bisa tani atau nderes pasti bisa untuk menghidupi keluargannya” dengan berangsur-angsur pandangan tersebut dirubah dengan cara memberikan fasilitas pendidikan kepada anak-anaknya dari TK hingga sampai Perguruan Tinggi, serta memasukannya ke Pesantren-pesantren diberbagai pelosok di tanah Jawa ini. Yang akhirnya budaya yang tadinya hanya budaya penninggalan nenek moyang saja, saat ini dengan adanya masyarakat yang berpendidikan serta mengerti ilmu agama yang diperoleh dari pesantren-pesantren melahirkan budaya-budaya baru seperti budaya Yasinan, budaya besuk masyarakat yang sedang sakit dirumah sakit[7]. Dan kebudayaan Yasinan ini merupakan kebudayaan yang dikembangkan oleh para santri atau lulusan pondok pesantren yang telah kembali mukim di Desa Karangbolong dengan tujuan mensyiarkan agama Islam. Selain itu jika dikaji secara makna kebudayaan merupakan warisan sosial yang  hanya dapat dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya. Ada cara-cara tersendiri untuk mempelajari kebudayaan yang didalamnya terkandung norma-norma serta nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam tata pergaulan masyarakat yang bersangkutan[8].


E.            Kondisi Keberagamaan Masyarakat
Berkaitan dengan kondisi keberagamaan masyarakat di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen, maka penulis akan menfokuskan pada sisi kepercayaan yang banyak dianut oleh masyarakat. Menurut data yang penulis peroleh dari wawancara dengan bapak Sakirin perangkat Desa di kantor Balai Desa Karangbolong pada hari jum’at 10 Januari 2013  bahwasannya masyarakat yang terdata di Desa Karangbolong sampai tahun 2012 secara keseluruhan berjumlah dua ribu enam ratus (2.600) jiwa.  Dengan rincian sebanyak dua ribu lima ratus sembilan puluh delapan (2.598) jiwa adalah masyarakat yang menganut agama Islam dan dua (2) jiwa menganut agama Hindu[9]. Perbedaan Agama pada  masyarakat di Desa Karangbolong ini tidak meimbulkan diskriminasi, mereka selalu menjalani kehidupan bermasyarakat yang lainnya dengan guyub dan rukun sesuai dengan keyakinan yang diyakininya. 
 Masyarakat Desa Karangbolong jika dipadukan dengan sebuah teori kebebasan beragama adalah pada dasarnya manusia merupakan makhluk otonom, otonom dari segi peran dan fungsi serta otonom dari segi ruhaniah. Otonom dari peran dan fungsi manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah istikhlaaf (pelimpahan amanat: Al-Ahzab 33:72) dari Allah kepada dirinya, sepenuhnya menempatkan manusia sebagai pemegang mandat urusan-urusan duniawi. Satu-satunya campur tanmgan Tuhan adalah melalui sunatullah yang berlaku pada alam, yang dengannya nasib dan takdir manusia berdialektika. Sedangkan otonom dari segi ruhaniah, manusia adalah makhluk  dengan kebebasan penuh. Ia memiliki kehendak dan bebas berkehendak, sekaligus ia bebas menentukan pilihan manusia di dunia ini. Berkaitan dengan masalah agama dan beragama, setiap individu mencerminkan diri sebagai  makhluk otonom. Beragama sebagai masalah pilihan jalan hidup, baik diatas rel kebaikan maupun keburukan, artinya dalam menentukan agama yang dipilihnya bukanlah terjadi secara otomatis melainkan dengan menggunakan etika rasional, untuk apa keputusan dipilih[10].   
Di Desa Karangbolong Kabupaten secara data yang


[1] Wawancara dengan Bapak Sakirin , Perangkat Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen  pada hari Rabu Tgl 02 Januari  2012 dari  pukul 10.00 -11.00  WIB. Beliau mengatakan usaha masyarakat yang paling banyak  dilakukan adalah usaha tani dan pembuat gula merah.
[2] Wawancara dengan Bapak Parimin, salah satu kepala rumah tangga yang bekerja sebagai pembuat gula merah di  desa Karangbolong Kabupaten Kebumen, di Karangbolong pada hari Minggu Tgl 29 Desember  2012 dari  pukul 18.00 -20.00  WIB.
[3]Arsip Desa, Sekretaris Desa Karangbolong, Tahun 2012
[4] Wawancara dengan Bapak Rasiman, Tokoh muda Dusun Gedong, di Musholla Nur Karimah pada hari Minggu Tgl 23 Desember  2012 dari  pukul 18.30 -20.00  WIB
[5] Purwadi.Dr, Upacara Tradisional Jawa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.22
[6] Wawancara dengan Bapak Sakirin , Perangkat Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen  pada hari Rabu Tgl 02 Januari  2012 dari  pukul 10.00 -11.00  WIB.
[7]Wawancara dengan Bapak Sobirin, Kepala Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen, di balai Desa pada hari Rabu Tgl 02 Januari  2012 dari  pukul 11.00 -11.30  WIB

[8] Purwadi.Dr, Upacara Tradisional Jawa.2005 hlm.1
[9] Wawancara dengan Bapak Sakirin , Perangkat Desa Karangbolong, Kabupaten Kebumen  pada hari Rabu Tgl 02 Januari  2012 dari  pukul 10.00 -11.00  WIB
[10]Baidhawi, Zakiyuddin, 2005 , “Kredo Kebebasan Beragama”, (Jakarta : PSAP),hlm.36

BAB III
Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Serta Peranannya Dalam Menciptakan Kesalehan Sosial Di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen

A.  Pengertian Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah
Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah telah banyak dijelaskan oleh para ilmuan ataupun para peneliti, salah satunya seperti penelitian yang dilakukan oleh Cumila Reni liana dalam skripsinya yang berjudul Sejarah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Di Temanggung.  Dijelaskjan bahwa tarekat artinya jalan, secara istilah tarekat adalah jalan dan cara yang ditempuh menuju keridhaan Allah, dalam usahanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, yaitu dengan latihan mengolah hati dibawah pengawasan seorang mursyid. Sedangkan dalam istilah khusus, tarekat  lebih sering dikaitkan dengan suatu ”Organisasi Tarekat” yaitu suatu kelompok organisasi yang melakukan amalan-amalan dzikir tertentu dan menyampaikan suatu sumpah yang formulanya telah ditentuukan oleh  mursyid atau pemimpin organisasi tarekat.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah disebutkan pada awal bab skripsi ini bahwasannya tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah merupakan gabungan dari dua tarekat yang berbeda namun tidak diamalkan dengan bersama-sama akan tetapi melahirkan tarekat yang baru dan berdiri sendiri, yang didalamnya ada unsur-unsur Qadiriyah dan Naqsababndiyyah. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah adalah salah satu diantara tarekat-tarekat yang ada di mancanegara.[1] Menurut Rohim dalam skripsinya yang berjudul Dinamika Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Pondok Pesantren Surya Buana Kabupaten Magelang dijelaskan bahwa tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah merupakan gabungan dari dua aliran tarekat, yaitu Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyyah yang penggabungan tersebut dilakukan oleh Syaikh Ahmad Khatib Sambas (1802-1872). Ia adalah seorang ulama asal sambas, Kalimantan Barat, ia merupakan Ulama Indonesia yang kemudian hijrah ke Makkah dalam rangka menuntut ilmu kepada beberapa ulama terkemuka sampai Ahmad Khatib Sambas wafat di sana. Akan tetapi ajaran beliau tentang Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyyah terus berkembang pesat sehingga tarekat ini memiliki jumlah pengikut paling besar di Nusantara. Penyebaran tersebut sempat ke beberapa daerah, termasuk di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen. Syaikh Ahmad Khatib Sambas tidak mengajarkan kedua tarekat ini secara terpisah, tetapi sebagai suatu kesatuan yang harus diamalkan secara utuh. Syaikh Ahmad Khatib Sambas terkenal sebagai seorang pemimpin tarekat sufi dan merupakan pakar dalam sufisme, tetapi disamping itu juga  merupakan seorang cendekiawan Islam yang menguasai berbagai lmu Islam seperti Al-Qur’an, hadits, fiqih, dan  menyalurkan pengetahuannya kepada para pelajar di Makkah[2]
Ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah sangat erat hubungannya dengan  bai’at atau pembai’atan. Bai’at dijelaskan dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah pelantikan secara resmi dengan mengambil sumpah setia kepada pemimpin yang melakukkan pembai’atan kepada seseorang yang hendak masuk dalam jama’ah tarekat tersebut[3]. Sedangkan di Desa Karangbolong bai’at dikenal dengan istilah  bengat  yang dalam kitab karya Ibnu Tirmidi As Syaifari dijelaskan bahwa setiap ada masyarakat yang akan masuk dalam jamaah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah maka harus melalui bai’at bersama mursyidnya bengat yakni ketika melaksanakan pembai’atan antara guru dan murid bersama-sama membaca kalimat :
1.             Bismillahirrahmanirrakhim Allahumma IftAhli Bifutuhil’arifin  sebanyak tujuh kali.
2.             Bismillahirrahmanirrakhim Alkhamdulillahi Washalatu Wassalamu ‘Allalhabibil a’lil a’dzim Sayyidina Muhammadinil Hadi Ila Sirotil Mustaqim sebanyak satu kali.
3.             Bismillahirrahmanirrakhim Astaghfirullohalghofururrokhim sebanyak tiga kali.
4.             Allahumma Sholli ‘ala  Sayyidina Muhammad Wa’ala alihi Wasohbihi Wassalim sebanyak tiga kali.
Kemudian setelah pembacaan kalimat-kalimat tersebut Syeh atau mursyid menalkin atau menuntun dzikir La Illaha Illallah sebanyak tiga kali. Kemudian murid atau jamaah menirukan apa yang diajarkan tersebut dengan mengakhiri menggunakan tambahan Sayyiduna Muhammad Rosulullahi Sollalohu A’laihi Wassalam. Kemudian  Syeh dengan murid membaca bersama-sama membaca Sholawat Tunjina Allohumma Shollia’la Sayyidina Muhammad Sholatan Tunjinabiha Aqshal Ghayat Minjamiil khoiroti Fil Khayati Wabadal Mamat setelah itu barulah puncak pembaiatan dengan Murid yang hendak masuk dalam ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah  mengucapkan sumpah didepan mursyid atau gurunya dengan mengikuti kalimat yang dituntunkan oleh mursyidnya tersebut. Adapun ayat yang digunakan oleh mursyid atau guru tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah adalah ayat yang berbunyi Bismillahirrahmanirrakhim Innaladzina Yubayyi’unaka Innama Yubayyi’unAllah Yadullah Fauqa Aidihim Famannakatsa Fainnama Yankutsu A’la Nafsihi Waman Aufabima A’hada  A’laihullah Fasayu’tihi Araan A’dzima. Kemudian membaca surat Al-Fatikhah yang pertama dengan maksud  tujuan utuk mendo’akan Nabi Muhammad SAW, dan para Massayih ahli silsilah Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah Syeh A’bdul Qadir Jailani dan Sayyid Abi Qasim Junaidi Al-Baghdadi. Kemudian Syeh membaca do’a dan menuntun muridnya  dengan dzikir seribu kali atau lebih banyak lagi[4]. Tugas para jama’ah tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah adalah mengamalkan ajaran yang sudah di berikan sewaktu dibai’at atau oleh masyarakat Desa Karangbolong akrab dengan dibengat oleh mursyidnya dengan tujuan untuk membersihkan hatinya dari segala sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah SWT, serta berkewajiban untuk selalu berbuat baik dalam setiap tindakannya terdap masyarakat sekitarnya. Hal itu harus disertai dengan sebuah wujud sikap, salah satunya yang dilakukan oleh para pengikut tarekat  di Desa Karangbolong adalah dengan selalu bertutur kata yang baik dengan siapa saja sebagai wujud penghormatan atas sesama manusia dalam pergaulan bermasyarakat. Hal ini senada seperti yang diungkapkan oleh Bapak Sama (jama’ah Tarekat) di Desa Karangbolong “seorang yang sudah ikut bengat atau sudah masuk dalam jama’ah tarekat  memang sudah seharusnya mampu menundukan kepalanya seperti halnya pohon padi yang sudah tua maka dia akan menunduk. Hal itu karena jama’ah memang sudah seharusnya selalu berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah SWT baik melalui usaha dzikirnya ataupun dalam tindakan sehari-hari yang tidak bisa pisah dengan masyarakat pada umumnya yakni dengan tindakan yang lebih sopan dan tutur katanya”[5].
Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong merupakan sebuah wadah masyarakat yang berperan sebagai pembentuk masyarakat yang baik   untuk selalu bersikap terbuka kepada siapapun, serta menjaga kebersamaan dalam menggapai satu tujuan yang sama yakni mencapai ridlo Allah SWT. Sikap terbuka ini dimaksudkan sebagai sebuah bentuk tanggung jawab sosial seoarng manusia terhadap sesama seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Hal ini ditegaskan oleh Bapak Iqbalul Khasan : “Demikian halnya dalam kehidupan bermasyarakat terdapat berbagai macam pemahaman serta tingkatan, ada yang baik pemahamannnya dan ada pula yang sedang-sedang saja atau bahkan lemah sekali yakni wajar bagi masyarakat yang masih awam, istilahnya sebaik-baik sebuah barang masih ada jeleknya serta kebalikannya sejelek-jelek barang juga memiliki bagian yang baik, sehingga harus dicampur biyar merata demikian pula kalau diibaratkan dalam masyarakat harus dicampur atau bercampur “srawung” biyar terdapat perkembangan baik perkembangan dalam segi interaksi sosial yang baik dan benar ataupun dalam segi kesalehan sosial, karena sudah jelas bahwasannya dalam kegiatan tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yakni melatih jiwa untuk senantiasa berbuat yang baik untuk depe-depe mendekatkan diri pada Allah SWT[6].
Menurut Mahfudoh dalam skripsinya tentang keterlibatkan kaum tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah diterangkan bahwa tarekat adalah salah satu unsur dari ajaran-ajaran Islam, yang menekankan pada segi batiniah. Ajaran Islam ini bisa dikategorikan secara umum menjadi aspek keimanan, keislaman, dan aspek ikhsan atau akhlak. Adapun ajaran Islam yang menekankan pada aspek ibadah atau hubungan manusia dengan Tuhannya, bisa juga diklasifikasikan dalam tingkatan: syari’at, tarekat, dan hakekat. Dalam hal ini, tarekat sama maksudnya dengan syari’at, yakni suatu jalan atau cara untuk mencapai hakekat Tuhan. Namun antara keduanya berbeda dalam orientasi untuk menuju Tuhan, dalam hal ini tarekat mengerahkan pada dimensi lahir[7].
Sebagaimana fungsi ajaran tarekat pada umumnya, dzikir dalam tarekat QadiriyahWa Naqsabandiyyah merupaka teknik dasar dalam ritual para penganutnya atau latihan-latihan spiritual untuk mencapai tujuan “mengingat Allah”(dzikrullah).  Menurut martin, praktek dzikir semacam itu pada dasasrnya bertujuan untuk mencapai kesadaran kepada Tuhan secara langsung dan permanen, akan tetapi sama sekali bukan untuk mencapai penyadaran diri atau peniadaan diri[8].
Sehubungan dengan ajaran yang ada dalam tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah itu sendiri, sebagagimana dikatakan oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas dalam tarekat ini ada tiga ritual dasar yaitu, yang pertama adalah membaca istighfar, yakni  astaghfirullah al-Gafur ar-Rahim sebbanyak dua puluh sampai dua puluh lima kali, kemudian diikuti pembacaan shalawat, yaitu Allahumma salli’ala sayyidina Muhammad wa’ala alih wa sahbih wa sallim, dengan jumlah hitungan yang sama dengan bacaan istighfar. Yang ketiga adalah melakukan dzikir dengan membaca La ilah ilaha Allah (tiada tuhan selain Allah), sebanyak seratus enam puluh lima (165) kali setelah menunaikan shalat wajib lima waktu setiap harinya.

B.  Peran Yang Dibangun Oleh Jama’ah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Terhadap masyarakat Di Desa Karangboolong Kabupaten Kebumen
Sesuai dengan teori yang penulis gunakan dalam menyusun skripsi yang berjudul Peran Tarekah Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah  ini yakni teori peran. Pernyataan Mark terkait peran atau tindakan sosial bahwasannya manusia sebagai makhluk sosial sudah seharusnya memiliki kesadaran yang menentukan gagasan, nilai-nilai, dan sentiment-sentimen individual[9]. Adapun jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong merupakan bagian dari masyarakat pada umumnya yang membentuk  kelompok sendiri diluar dari kelompok-kelompok formal kemasyarakatan pada umumnya  seperti kelompok arisan, kelompok PKK, kelompok tani ternak ataupun kelompok-kelompok lainnya. Kelompok sendiri yang dimaksudkan adalah kelompok jama’ah  tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yang mana Jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di desa karangbolong ini merupakan kelompok yang sudah diakui keberadaanya oleh masyarakat umum. Di Desa Karangbolong ada dua orang yang menjadi ba’dal mursyid atau wakil mursyid yaitu Bapak Kiyai Haji Nasrudin Sodiq dan Bapak Kiyai Haji Suparno. Keduanya memiliki tugas yang sama yang diberikan oleh mursyidnya yaitu Bapak Kiyai Haji Badrus Syamsi (Kwarasan Kebumen), adapun tugas yang menjadi kewajiban seorang ba’dal mursyid yakni membimbing jama’ah untuk senantiasa mengamalkan amalan yang sudah di ijazahkan oleh mursyidnya saat di bai’at bengat[10].
Untuk lebih jelasnya tujuan daripada masuk dalam jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sedekat-dekatnya melalui sebuah jalan , sehingga di Desa  Karangbolong mengikuti Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah hampir dijadikan sebagai keharusan bagi masyarakat yang memang terbuka hatinya untuk meningkatkan iman  mereka, selain itu juga karena faktor kehidupan masyarakatnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani sehingga ketika  usia mereka sudah mencapai 50 akan sadar dengan sendirinya bahwa tidak lama lagi akan diambil oleh Allah SWT  untuk pulang kesisiNya. Sehingga masyarakat akan cendrung mencari jalan untuk bekal kembali kepadaNya dengan ikut dalam kelompok tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah. Adapun peran atau hubungan yang dibangun oleh jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah dengan masyarakat pada umumnya sangat disambut baik oleh masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen. Hal itu dilatar belakangi dengan alasan kerena maksud dan tujuan tarekat tersebut sudah banyak diketahui oleh masyarakat umum  yakni mendekatkan diri pada Allah dengan melalui ritual-ritual dzikir yang dipimpin oleh seorang mursyid atau ba’dal mursyid yang berkewajiban di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen[11].       
Dari situ dapat dikaji lebih detail terkait peran yang dibangun oleh jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong bahwasannya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Desa Karangbolong yakni sebagai proses pertumbuhan norma-norma masyarakat.
Pada mulanya norma-norma tersebut terbentuk secara tidak disengaja. Namun lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar, norma-norma  yang ada pada masyarakat memiliki kekuatan mengikat yang berbeda-beda. Ada norma yang lemah, yang sedang ataupun yang terkuat ikatannya. Pada yang terakhir, umumnya anggota-anggota masyarakat pada tidak berani melanggarnya. Untuk dapat membedakan kekuatan norma-norma tersebut secara sosiologis dikenal adanya empat pengertian yaitu: Cara (usage), Kebiasaan (folkways), Tata Kelakuan (mores), dan adat-istiadat (costum). Pengertian tersebut memiliki dasar yang sama yaitu masing-masing merupakan norma-norma kemasyarakatan yang memberikan petunjuk bagi perilaku seseorang yang hidup di dalam masyarakat. setiap pengertian diatas memiliki kekuatan yang berbeda karena setiap tingkatan menunjuk pada kekuatan memaksa yang lebih besar supaya menaati norma. Cara (usage) menunjuk pada suatu bentuk perbuatan. Norma ini memiliki kekuatan yang sangat lemah bila dibandingkan dengan kebiasaan (folkways). Kebiasaan menunjuk pada perbuatan yang di ilang-ulang dalam bentuk yang sama[12].  Dari penjelasan-penjelasan tersebut dipadukan dengan realitas tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah, bahwasannya berbicara terkait norma dalam dunia tarekat juga sangat erat hubungannya dengan adab atau sopan santun, norma atau adab sangat dijunjung tinggi oleh jama’ah atau murid di dalam dunia tarekat, adapun adab, sopan santun serta tata krama murid kepada mursyid menurut Syeikh Najmuddin Amin Al-Qurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub  ada dua puluh tujuh, diantaranya yaitu:
1.      Murid harus menghormati mursyidnya lahir batin.
2.      Murid harus menyerahkan diri, tunduk, dan rela kepada mursyidnya.
3.      Murid harus berhidmat dengan tenaga dan harta.
4.      Murid tidak boleh menentang atau menyangkal sesuatu yang diperbuat mursyidnya.
5.      Murid tidak boleh mempunyai pamrih kepada mursyidnya[13].
Hubungan diluar kegiatan ritual tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong biasanya ditunjukan dalam kegiatan murid untuk silaturahmi serta memohon do’a dan nasehat kepada mursidnya yaitu bapak Kiyai H. Badrus Syamsi (kwarasan kebumen), biasanya kegiatan silaturahmi yang rutin dilakukan oleh murid kepada mursid yakni ketika menghadapii bulan-bulan besar Islam seperti ketika akan menghadapi bulan Ramadhan, bulan muharam, dan yang lainnya tapi yang pasti yaitu pada hari raya Idul Fitri. Ba’dal mursyid mengajak seluruh muridnya atau jama’ahnya untuk bersama-sama berangkat silaturahmi ke rumah mursyid biasanya dengan menggunakan mobil truk atau mobil terbuka hal itu dipengaruhi oleh faktor ekonomi masyarakat serta faktor usia para jamaah yang sebagian besar adalah sudah memasuki usia lanjut. Begitu sampai di rumah mursidnya murid harus selalu mengedepankan akhlaqul karimahnya seperti dalam bertutur kata ketika murid akan mengajukan pertanyaan kepada mursid atau gurunya, ia mengucapkan dengan bahasa (kromo) atau bahasa jawa yang halus dengan nada yang rendah dan menerima apa yang disampaikan gurunya dengan sepenuh hati sehingga keharmonisan antara mursyid dengan murid terwujud, hal itu sebagai perwujudan dalam system interaksi yang menjadi kebiasaan dikalangan penganut tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen[14].  

C.  Tanggapan Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen terhadap aktifitas tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah

Pertanyaan-pertanyaan yang penulis berikan kepada masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen dalam menyusun skripsi ini penulis fokuskan    terkait adanya jama’ah  tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah beserta aktivitasnya dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Adapun jawaban yang penulis dapatkan dari wawancara dengan masyarakat Desa Karangbolong dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait adanya tarekat tersebut, hampir semuanya menanggapi dengan jawaban yang sama, yakni keberadaan Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong bagus dan sangat diterima karena secara langsung adanya jama’ah Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong memberikan peran dalam membina moral masyarakat serta memberikan ruang tersendiri untuk mewujudkan sebuah kesalehan sosial dengan cara berdzikir dan tawasul depe-depe mendekatkan diri pada Allah SWT[15].
Terkait aktivitas kegiatan tarekat  Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah di Desa Karangbolong yaitu :
1.             Tawajuan
Tawajuan merupakan amalan tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah yang berupa dzikir tawajuh menuju Allah dengan bersama-sama atau jama’ah yang dipimpin oleh Ba’dal Mursid Kiyai H. Suparno. Sebelum melaksanakan tawajuhan maka dimulai dengan tawasul membaca surat Al-Fatikhah ditunjukan untuk Nabi Muhammad SAW, Orang tua Nabi dan sahabatnya, para mujtahid, serta Mursidnya dan ahli silsilah tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah, dan muslimin, muslimat pada umumnya. Adapun kalimat dzikir yang dibaca saat tawajuan yaitu:
a.       Membaca sholawat Nabi sebanyak seratus kali.
b.      Membaca surat Al-Insiraj (alam nasroh) sebanyak tujuh puluh Sembilan kali.
c.       Surat Ikhlas sebanyak seratus kali.
d.      Allahumma Ya Qadiyal Hajat sebanyak seratus kali.
e.       Yakafi’al Muhimmat sebanyak seratus kali.
f.       Allahumma Ya Rafi’a darojat sebanyak seratus kali.
g.      Allahumma Ya dafi’al Baliyat sebnyak seratus kali.
h.      Allahumma Ya Mukhilal Muskilat sebnyak seratus kali.
i.        Allahumma Ya Mukhibbat Da’wat sebnyak seratus kali.
j.        Allahumma Ya Syafyal Afrad sebnyak seratus kali.
k.      Allahumma Ya Arhamarrakhimin sebnyak seratus kali.
l.        Ya Latif sebnyak seribu kali.
Kemudian melaksanakan dzikir sir dalam hati sebanyak seratus kali[16].
2.             Khataman
Khataman dalam pelaksanaanya dibaca secara berjama’ah setelah shalat isya dan dzikir wajib. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada setiap malam senin dan malam kamis dipimpin oleh ba’adal mursyid Kiyai H. Suparno. Khataman biasanya dimulai dengan membaca al-Fatikhah yang dikhususkan kepada para mursyid sampai kepada Rosulullah, dan diteruskan dengan membaca doa’-do’a yang telah ditetapkan dan diakhiri dengan Do’a[17]. 
3        Manaqib
          Dalam tradisi ritual Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah, selain amalan harian (dzikir jahr dan dzikir sir) terdapat juga amalan bulanan (Manaqib). Manaqib dapat diartikan biografi, riwayat hidup seorang tokoh yang dianggap  shaleh, alim, dan mempunyai karamah. Dalam Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah, Manaqib yang dibaca pada tiap tanggal 11 bulan hijriyah adalah Manaqib Abdul Qadir al-Jailani, tokoh pendiri Tarekat Qadiriyah[18].
Terkait tarekat menurut Ibu Kaminah (ibu rumah tangga), tarekat memang baik dan kalau bisa masyarakat Desa Karangbolong semuanya ikut tarekat karena dengan ikut tarekat mereka akan selalu berbuat baik jujur dan yang terpenting adalah mampu menjaga shalatnya karena manusia dengan menjaga shalatnya maka  dalam kehidupan sosialnya  juga pasti akan baik juga. Seorang yang sudah ikut tarekat secara sosial akan memiliki kriteria yang membedakan dengan masyarrakat pad umumnya salah satunya yakni: seorang murid atau jamaah tarekat akan selalu menjaga lisannya dari kata-kata yang tidak memiliki makna, selalu mengedepankan akhlaqul karimah ketika bergaul dalam masyarakat pada umumnya[19].       


[1] Cumila Reni liana, Sejarah Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Di Temanggung, (Yogyakarta : Skripsi.2002), hlm.20
[2] Rohim, Dinamika Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah di Pondok Pesantren Surya Buana Kabupaten Magelang,(Yogyakarta : Skripsi 2007), hlm.17
[3] Kamus Besar Bahasa Indonesia V1.1
[4] Kiyai H. Ghufron Al-Khasan, Makhatus Salikin, (Kebumen : Pondok Pesantren Gebang Sari, 1961),  hlm. 4
[5] Wawanca dengan Bapak Sama, Jama’ah tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah pada hari Jum’at  1 Februari 2013 di rumahnya.
[6] Wawancara dengan Bapak Iqbalul Khasan (ustadz), pada hari rabu 29 Januari 2013 bertempat di rumahnya beliau.
[7] Mahfudoh, Skripsi “Keterlibatan Kaum Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Dalam Pemberontakan Rskyat Banten”, ( Yogyakarta : UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta, Fakultas Adab, 2004), hlm. 54.
[8] Martin Van Brunesssen, Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah di Indonesia, hlm.85
[9] Bryan S. Tuner. Teori Sosial Dari Klasik Hingga Modern ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 112.
[10] Wawancara dengan Bapak Kiyai Haji Suparno di rumahnya pada hari rabu tanggal 29 Januari 2013 pada pukul 21.00-23.30.
[11] Wawancara dengan Bapak Kepala Desa Karangbolong (Bapak Sobirin) di rumahnya pada pad pukul 18.30-20.30,  hari rabu tanggal 29 Januari 2013
[12] Soerjono Soekamto, 2007, hlm.174.
[13] Muhammad Sayuti, Politik Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Jombang, (Yogyakarta : Galang Press, 2011), hlm. 171.
[14] Wawancara dengan Bapak Sartin, Jama’ah Tarekat Qadiriyah Wa Naqabandiyyah, tanggal  27 Januari 2013.
[15] [15] Wawancara dengan Bapak Sakirin, Kepala Desa Karangbolong, tanggal 29 Januari 2013.
[16] Kiyai H. Abdullah Sayuti Wanaqsabandi dkk, Al-Mukhtasirah, (Kebumen : Ahli Tarekat Muthabarah, 1613),hlm.5
[17] Wawancara dengan Kiyai H. Suparno, ba’dal mursid di Desa Karangbolong, tanggal 29 Januari 2013.
[18] Wawancara dengan Bapak Sanbarjo, Murid Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah, tanggal  28 Januari 2013
[19] Wawancara dengan Ibu Aminah (ibu rumah tangga), tanggal  28 Januari 2013.



BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT UNTUK IKUT DALAM AJARAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEDUKUNG TERCIPTANYA KESALEHAN SOSIAL DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN KEBUMEN

A.  Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Masyarakat Desa Karangbolong Untuk ikut dalam Ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah.
Faktor-faktor yang memberikan pengaruh kepada masyrakat Desa Karangbolong untuk ikut dalam ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyyah yang pertama yaitu adanya faktor ulama, yang terbukti dengan adanya mursyid atau ulama besar  yang dipercayai masyarakat memiliki karomah atau kharismatik serta memiliki kedudukan mulia dimata Allah SWT. Yaitu Simbah Kiyai Haji Ghufron Al-Khasan pendiri pondok pesantren Gebang Sari Kwarasan Kebumen, dan simbah Kiyai Haji Badrus Syamsi Bonjok Kebumen. Dari adanya dua Mursyid tersebut mampu memberikan pemahaman terkait ajaran Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah kepada masyarakat  umum disekitarnya. Melalui dakwahnya, kedua Mursyid tersebut mengharapkan untuk dapat merubah masyarakat Kebumen dalam melakukan aktivitas kesehariannya, dengan cara penanaman nilai yang di ajarkan oleh Mursyid kepada masyarakat. Kedua, adanya penanaman nilai-nilai agama terhadap masyarakat, dengan menggunakan konsep yang telah di desain oleh kedua Mursyid tersebut. Sehingga masyarakat tidak keliru dalam melaksanakan tarikat Qodariyah Wa Naqsabandiyyah. Ketiga, adanya kepercaayaan masysrakat terhadap karisma yang dimiliki kedua Mursyid tersebut sehingga mampu memberikan pengaruh terhadap lingkungan masyarakat Kebumen dalam membentuk relasi sosial antara sesama masyarakat yang ada di sekitarnya dengan kharisma yang meraka miliki.   

B.  FAKTOR-FAKTOR YANG MEDUKUNG TERCIPTANYA KESALEHAN SOSIAL DI DESA KARANGBOLONG KABUPATEN KEBUMEN


Daftar Pustaka

Bodan, Robert. 1992, “Pengantar Metode Penelitian KKualitatif Suatu Pendekatan Fenomenoologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial”, (Surabaya : Usaha Nasional,).
Bruinessen, Martin Van.1999, “Tarekat Naqsabandiyan Di Indonesia”,        ( Bandung : Penerbit Mizan)
Bungin, Burhan. 2007, “Penelitian Kualitatif”,(Jakarta : Prenada Media)
Mulyana, Deddy, 2004,Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya)
Rusdiyanta, Syahriyal Syarbaini. 2009, “Dasar-dasar Sosiologi”,( Jakarta : Graha Ilmu)
Said, Fuad. 1996, “Hakikat Tarikat Naqsabandiyyah”, (Jakarta : PT.Alhusna Zikra)
Soekanto, Soerjono. 2007, “Sosiologi Suatu Pengantar”, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada)
Reni Liana, Chumila. 2002, “Sejarah Tarekat Qadiriyah Wa Naqssabanndiyyah Di Temanggung”, (Yogyakarta : Skripsi Fakultas Adab)
Purwadi. 2005, “Upacara Tradisional Jawa”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)
Al-Khasan, Khufron. 1961, “Makhatus Salikin”, (Kebumen : Pondok Psantren Gebang Sari Kwarasan)
Sayuti, Muhammad, 2011, “Politik Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Jombang”, (Yogyakarta : Galang Press, 2011)
S.Tuner, Bryan. 2012 “Teori Sosial Klasik Sampai Modern”. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)
Sayuti Wanaqsabandi Abdullah, dkk, “Al-Mukhtasirah”, (Kebumen : Ahli Tarekat Muthabarah, 1613)





SURAT BUKTI PENELITIAN
NO.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama               : Sakirin
Umur               :
Jabatan                        :
Alamat                        :
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa,
Nama               : Muhlasin
NIM                : 09540008
Fakultas           : Ushuluddin Studi Agama Dan Pemiikiran Islam
Alamat                        : RT 11/ RW 03 Winong, Prenggan, Kotagede Yogyakarta
            Telah melaksanakan  penelitian di tempat  kami pada tanggal 25 Desember – 3 Januari 2013 dengan baik sesuai program, sebagai  syarat untuk menyusun skripsi dengan jjudul “ PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN  KESALEHAN SOSIAL ” (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah).
            Bagi yang gerkepenntingan surat keterangan ini bias dipergunakan sebagaimana mestinya. Harap mmenjadiikan maklum adanya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                                                   Kebumen 25 Januari 2012                                                                                                                                         
                                                                                    Sakirin

Daftar Pustaka

Bodan, Robert. 1992, “Pengantar Metode Penelitian KKualitatif Suatu Pendekatan Fenomenoologis Terhadap Ilmu-ilmu Sosial”, (Surabaya : Usaha Nasional,).
Bruinessen, Martin Van.1999, “Tarekat Naqsabandiyan Di Indonesia”,        ( Bandung : Penerbit Mizan)
Bungin, Burhan. 2007, “Penelitian Kualitatif”,(Jakarta : Prenada Media)
Mulyana, Deddy, 2004,Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya)
Rusdiyanta, Syahriyal Syarbaini. 2009, “Dasar-dasar Sosiologi”,( Jakarta : Graha Ilmu)
Said, Fuad. 1996, “Hakikat Tarikat Naqsabandiyyah”, (Jakarta : PT.Alhusna Zikra)
Soekanto, Soerjono. 2007, “Sosiologi Suatu Pengantar”, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada)
Reni Liana, Chumila. 2002, “Sejarah Tarekat Qadiriyah Wa Naqssabanndiyyah Di Temanggung”, (Yogyakarta : Skripsi Fakultas Adab)
Purwadi. 2005, “Upacara Tradisional Jawa”, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)
Al-Khasan, Khufron. 1961, “Makhatus Salikin”, (Kebumen : Pondok Psantren Gebang Sari Kwarasan)
Sayuti, Muhammad, 2011, “Politik Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyyah Jombang”, (Yogyakarta : Galang Press, 2011)
S.Tuner, Bryan. 2012 “Teori Sosial Klasik Sampai Modern”. (Yogyakarta : Pustaka Pelajar)
Sayuti Wanaqsabandi Abdullah, dkk, “Al-Mukhtasirah”, (Kebumen : Ahli Tarekat Muthabarah, 1613)





SURAT BUKTI PENELITIAN
NO.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.
            Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama               : Sakirin
Umur               :
Jabatan                        :
Alamat                        :
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa,
Nama               : Muhlasin
NIM                : 09540008
Fakultas           : Ushuluddin Studi Agama Dan Pemiikiran Islam
Alamat                        : RT 11/ RW 03 Winong, Prenggan, Kotagede Yogyakarta
            Telah melaksanakan  penelitian di tempat  kami pada tanggal 25 Desember – 3 Januari 2013 dengan baik sesuai program, sebagai  syarat untuk menyusun skripsi dengan jjudul “ PERAN TAREKAT QADIRIYAH WA NAQSABANDIYYAH DAN  KESALEHAN SOSIAL ” (Studi Kasus Terhadap Masyarakat Desa Karangbolong Kabupaten Kebumen Jawa Tengah).
            Bagi yang gerkepenntingan surat keterangan ini bias dipergunakan sebagaimana mestinya. Harap mmenjadiikan maklum adanya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
                                                                                   Kebumen 25 Januari 2012                                                                                                                                         
                                                                                    Sakirin









 

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda